politicanews.id – Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek menggebrak dengan meluncurkan program Hilirisasi dan Kemitraan 2026 sebuah inisiatif ambisius yang siap mengubah wajah riset nasional. Program ini hadir membawa tiga skema pendanaan inovatif bertujuan mempercepat komersialisasi produk riset kampus dan menjawab tantangan strategis bangsa secara konkret.
Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek Yos Sunitiyoso dalam peluncuran di Jakarta menegaskan era riset yang hanya berakhir di jurnal ilmiah telah usai. Menurutnya orientasi penelitian perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi solusi nyata bagi persoalan fundamental negara. Kita tidak hanya menggenjot mutu riset namun juga berupaya keras menjawab tantangan strategis yang dihadapi bangsa ini ujarnya.

Pada tahun ini Kemdiktisaintek telah menggelontorkan dana fantastis mencapai Rp454 miliar. Angka tersebut mendanai lebih dari seribu tujuh puluh proyek riset terapan yang menyatukan kekuatan akademisi dan dunia usaha. Dari total alokasi itu sembilan ratus dua puluh empat judul penelitian didanai melalui jalur Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri BOPTN senilai Rp317 miliar. Sementara seratus empat puluh enam judul lainnya mendapat dukungan dari kolaborasi strategis dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan LPDP senilai Rp136 miliar.

Related Post
Untuk tahun anggaran 2026 Kemdiktisaintek menyiapkan tiga pilar pendanaan utama yang siap melesatkan inovasi. Skema pertama adalah Program Hilirisasi Riset Tahap II Tahun 2026 yang dirancang untuk menjembatani inovasi kampus dengan tuntutan pasar. Skema ini berfokus pada lima isu krusial yakni ketahanan energi melalui efisiensi dan elektrifikasi pengelolaan sampah ketahanan kesehatan nasional swasembada pangan serta digitalisasi dan kecerdasan buatan AI.
Pilar kedua adalah Riset Kemitraan Internasional sebuah program yang membuka pintu bagi peneliti Tanah Air untuk berkolaborasi dengan pakar riset global terkemuka. Skema ini memiliki dua jalur luaran yakni kategori A untuk menghasilkan publikasi ilmiah kelas dunia Q1/Q2 dan kategori B untuk menciptakan prototipe siap pakai atau produk inovasi yang memiliki potensi komersial tinggi.
Terobosan paling menarik hadir pada skema ketiga yaitu Hackathon Deeptech. Dalam inisiatif revolusioner ini kementerian akan menggelontorkan dana hingga Rp15 miliar bagi perguruan tinggi yang berani menggelar kompetisi hackathon berskala nasional. Penyelenggaraan hackathon ini bertujuan menggali solusi inovatif untuk tantangan riil yang dihadapi bangsa misalnya bekerja sama dengan Danantara untuk industri semikonduktor ketahanan pangan bersama Kementerian Pertanian atau isu transisi energi jelas Yos Sunitiyoso.
Melalui ketiga skema pendanaan ini Kemdiktisaintek berharap hasil riset anak bangsa tak lagi hanya menjadi tumpukan laporan di atas kertas. Sebaliknya produk-produk inovasi nasional diharapkan mampu diinkubasi diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas untuk memangkas ketergantungan Indonesia pada produk impor sekaligus mendorong kemandirian bangsa.










Tinggalkan komentar