Penulis: Roestamar

  • Fitnah Keji: Aparat Dituduh Dalang Kericuhan!

    Fitnah Keji: Aparat Dituduh Dalang Kericuhan!

    Politica News – Direktur Merah Putih Stratejik Institut (MPSI), Noor Azhari, melontarkan kecaman keras terhadap tuduhan yang mengaitkan aparat keamanan sebagai dalang kericuhan di Slipi, Jakarta Barat. Pernyataan tersebut dinilai sebagai fitnah keji yang berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara. Insiden yang sempat viral di media sosial, melibatkan anggota Brimob dan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, telah diselesaikan secara damai dengan saling berjabat tangan. "Faktanya, insiden ini sudah berakhir. Tidak ada konflik, tidak ada keterlibatan aparat sebagai pemicu kerusuhan," tegas Azhari.

    Azhari menekankan bahwa penyebaran informasi bohong terkait insiden tersebut dapat dijerat hukum. "Media yang menyebarkan berita tidak benar bisa dipidana berdasarkan Pasal 14 dan 15 UU No 1 Tahun 1946, dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara," jelasnya. Ia menambahkan bahwa penyebaran berita bohong di ranah digital juga dapat dijerat Pasal 28 ayat (2) UU ITE karena menimbulkan kebencian atau permusuhan. Lebih lanjut, Azhari mengacu pada Pasal 390 KUHP yang mengatur tentang penyebaran kabar tidak benar yang menimbulkan keresahan publik sebagai tindak pidana.

    Fitnah Keji: Aparat Dituduh Dalang Kericuhan!
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Menurutnya, menuduh TNI dan Polri sebagai aktor kericuhan adalah tindakan yang sangat berbahaya. "TNI dan Polri adalah garda terdepan keamanan negara. Merusak soliditas mereka sama saja dengan merusak fondasi negara," ujarnya. Azhari menegaskan bahwa insiden Slipi hanyalah miskomunikasi yang telah diselesaikan secara baik-baik. "Menuduh aparat sebagai aktor kerusuhan adalah fitnah keji dan dapat diproses secara hukum," pungkasnya. Pernyataan ini menjadi sorotan tajam di tengah maraknya informasi yang belum terverifikasi di ruang publik.

  • Prabowo Sigap! Negara Aman Terkendali

    Prabowo Sigap! Negara Aman Terkendali

    Politica News – Perintah tegas Presiden Prabowo Subianto kepada Panglima TNI dan Kapolri dinilai berhasil meredam gejolak keamanan pasca-kerusuhan 25-31 Agustus 2025. Kecepatan dan keakuratan respons tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Yudi Syamhudi Suyuti, Koordinator Eksekutif JAKI Kemanusiaan Inisiatif, menyebut instruksi tersebut sebagai tindakan stabilisasi keamanan yang efektif dan tepat sasaran. "Perintah Presiden ini langsung meredam situasi yang bergejolak tanpa tindakan berlebihan dari aparat," ujar Yudi pada Rabu (3/9/2025). Kejadian amuk massa, perusakan fasilitas umum, dan penjarahan yang terjadi sebelumnya, menurut Yudi, menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Ia menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat dan politik dalam mendinginkan situasi dan mengarahkan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi melalui jalur yang konstitusional dan damai. Ke depan, diharapkan semua pihak dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan dan menyelesaikan konflik secara konstruktif.

    Prabowo Sigap! Negara Aman Terkendali
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net
  • Aksi Viral TikToker Picu Kerusuhan, Tujuh Tersangka Ditangkap!

    Aksi Viral TikToker Picu Kerusuhan, Tujuh Tersangka Ditangkap!

    Politica News – Geger! Tujuh orang diamankan Bareskrim Polri terkait aksi provokasi di media sosial yang berujung pada kerusuhan dan penjarahan rumah sejumlah pejabat. Salah satu tersangka yang paling mengejutkan adalah IS, pemilik akun TikTok @hs02775, seorang karyawan swasta berusia 39 tahun. Ia diduga kuat menjadi dalang di balik serangkaian postingan yang menghasut massa untuk menyerang rumah Ketua DPR Puan Maharani, Anggota DPR Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya.

    Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Himawan Bayu Aji, mengungkapkan modus operandi IS yang licik. "Tersangka dengan sengaja menyebarkan konten provokatif di akun TikTok-nya, mendorong massa untuk melakukan aksi anarkis dan penjarahan," tegas Himawan dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu (3/9/2025). Visualisasi postingan-postingan tersebut, lanjut Himawan, jelas menunjukkan upaya IS untuk mengarahkan massa ke rumah para pejabat tersebut.

    Aksi Viral TikToker Picu Kerusuhan, Tujuh Tersangka Ditangkap!
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Menariknya, akun TikTok IS yang memiliki 2.281 pengikut, bersifat anonim. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa IS sengaja menyembunyikan identitasnya untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan provokatifnya. IS sendiri telah ditahan di Rutan Bareskrim Polri sejak 2 September 2025.

    Penangkapan IS dan enam tersangka lainnya menjadi bukti nyata betapa bahayanya penyebaran informasi sesat di media sosial. Aksi yang awalnya hanya berupa postingan di TikTok, berkembang menjadi kerusuhan yang menimbulkan kerugian materiil dan ketidaknyamanan bagi para korban. Kasus ini menjadi peringatan keras bagi pengguna media sosial agar bijak dalam berbicara dan bertanggung jawab atas setiap konten yang diunggah. Polri menegaskan akan menindak tegas siapapun yang terbukti menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan keresahan dan gangguan keamanan.

  • Prabowo Kilat di Beijing: Misi Rahasia 8 Jam?

    Prabowo Kilat di Beijing: Misi Rahasia 8 Jam?

    Politica News – Hanya dalam waktu kurang dari 8 jam, Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, telah menyelesaikan kunjungan kilatnya ke Beijing, Tiongkok. Kehadiran beliau di Negeri Tirai Bambu, merupakan respons atas undangan khusus Presiden Xi Jinping dalam rangka peringatan 80 tahun Kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok. Kunjungan singkat ini menimbulkan berbagai spekulasi, mengingat intensitas pertemuan dan waktu yang amat terbatas.

    Seskab Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet menjelaskan bahwa Prabowo seharusnya hadir sejak 31 Agustus. Namun, beliau memutuskan menunda keberangkatan karena pertimbangan dinamika politik dalam negeri. Kehadiran Prabowo di Beijing, yang bertepatan dengan parade militer akbar, menarik perhatian dunia. Beliau tergabung dalam 26 pemimpin negara yang mendapat tempat istimewa di kursi utama, bersanding langsung dengan Presiden Xi Jinping.

    Prabowo Kilat di Beijing: Misi Rahasia 8 Jam?
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Meskipun detail agenda kunjungan Prabowo masih terbatas, kehadirannya di tengah perhelatan internasional ini menunjukkan signifikansi hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok. Kunjungan kilat ini memicu pertanyaan mengenai isi pembicaraan antara kedua pemimpin negara, serta implikasi politik dan strategisnya bagi Indonesia. Apakah ada kesepakatan rahasia yang terjalin di balik kunjungan singkat ini? Publik menantikan penjelasan lebih lanjut dari pemerintah terkait misi Prabowo di Beijing. Misteri di balik kunjungan 8 jam ini tampaknya akan terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat politik dan masyarakat Indonesia.

  • Misteri Kematian Diplomat: Sindikat Internasional?

    Misteri Kematian Diplomat: Sindikat Internasional?

    Politica News – Rentetan kematian diplomat Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang janggal telah menghebohkan publik. Nicolay Aprilindo, kuasa hukum keluarga almarhum Arya Daru Pangayunan (ADP), curiga adanya target pembunuhan terorganisir. Pernyataan kontroversial ini disampaikan Nicolay seusai menyerahkan surat permohonan Rapat Dengar Pendapat (RDP) kepada Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, Rabu (3/9/2025).

    Kematian ADP pada 8 Juli 2025 dengan kondisi mengenaskan—kepala terlilit lakban—dan tewasnya Leonardo Zetro Purba akibat penembakan saat bersepeda di Lima, Peru pada 1 September 2025, menjadi sorotan utama. Nicolay dengan tegas menyatakan kecurigaannya: "Saya berani mengatakan para diplomat ini sedang menjadi target, meskipun kita belum tahu siapa pelakunya. Kasus di Peru sangat mengkhawatirkan; ditembak saat bersepeda! Ini bukan kejadian biasa."

    Misteri Kematian Diplomat: Sindikat Internasional?
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Lebih jauh, Nicolay menduga keterlibatan sindikat kejahatan internasional. Ia melihat adanya pola dan motif yang mengarah pada kelompok terorganisir. "Kemungkinan besar ada kelompok atau sindikat tertentu yang mengincar mereka. Apalagi banyak diplomat kita menangani kasus perdagangan orang (TPPO). Kemlu harus waspada!" tegasnya.

    Pernyataan Nicolay ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar. Apakah benar ada sindikat internasional yang mengincar diplomat Indonesia? Apakah Kemlu telah melakukan langkah antisipatif yang cukup? Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut penyelidikan menyeluruh dan transparan dari pihak berwenang. Publik menantikan hasil RDP Komisi III DPR dan langkah konkret pemerintah untuk mengungkap misteri di balik rentetan kematian tragis ini. Nasib para diplomat Indonesia, penjaga kedaulatan bangsa di kancah internasional, kini menjadi perhatian utama.

  • Misteri Panggilan KPK: Anggota DPR NasDem Diperiksa!

    Misteri Panggilan KPK: Anggota DPR NasDem Diperiksa!

    Politica News – Kejutan melanda Gedung Merah Putih KPK pada Rabu (3/9/2025). Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Iman Adinugraha, memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk diperiksa sebagai saksi. Bukan panggilan biasa, Iman diperiksa terkait kasus korupsi yang mengguncang dunia perbankan dan keuangan negara: penyelewengan dana Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dan Penyuluhan Jasa Keuangan (PJK) OJK tahun 2020-2023.

    Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan informasi tersebut. "KPK memanggil saudara IA selaku wiraswasta, untuk dilakukan pemeriksaan sebagai saksi, di gedung KPK Merah Putih," tegas Budi dalam keterangan resminya. Meskipun Iman telah mengkonfirmasi kehadirannya, belum ada informasi pasti apakah ia sudah tiba di Gedung KPK saat pernyataan ini dirilis.

    Misteri Panggilan KPK: Anggota DPR NasDem Diperiksa!
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Pemanggilan ini tentu saja memicu spekulasi dan pertanyaan. Apa peran Iman Adinugraha dalam kasus korupsi yang diduga melibatkan dana PSBI dan PJK OJK ini? Apakah ia hanya saksi biasa, ataukah ada keterlibatan yang lebih dalam? Publik menanti dengan penuh harap kejelasan dari proses hukum yang sedang berjalan. Kasus ini sendiri telah menjerat beberapa pihak, termasuk mantan anggota DPR, menunjukkan betapa luas dan kompleksnya jaringan korupsi yang harus dibongkar.

    Kehadiran Iman Adinugraha di KPK menjadi sorotan tajam. Publik menantikan transparansi dan akuntabilitas dari proses hukum ini. Semoga KPK dapat mengungkap seluruh fakta dan menghukum setiap pihak yang terlibat tanpa pandang bulu. Peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya pengawasan ketat terhadap penggunaan dana publik dan perlu adanya reformasi menyeluruh dalam sistem pengelolaan keuangan negara untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa mendatang. Nasib Iman Adinugraha dan perkembangan kasus ini akan terus menjadi perhatian publik dan media.

  • Demo 28-30 Agustus: Kerusuhan Unik di Sejarah Indonesia?

    Demo 28-30 Agustus: Kerusuhan Unik di Sejarah Indonesia?

    Politica News – Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Budiman Sudjatmiko menyebut kerusuhan dalam aksi demonstrasi 28-30 Agustus 2025 sebagai peristiwa unik dan terbesar pertama dalam sejarah Indonesia modern. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Budiman, tokoh aktivis 1998 yang dikenal vokal, dalam program "Rakyat Bersuara" di iNews, Selasa (2/9/2025). Apa yang membuat kerusuhan ini begitu istimewa di mata seorang veteran gerakan mahasiswa?

    Budiman menjelaskan, meski demonstrasi yang berujung kerusuhan bukanlah hal baru di dunia, insiden 28-30 Agustus memiliki karakteristik unik yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Ia menekankan skala dan dinamika kerusuhan tersebut sebagai pembeda signifikan. "Peristiwa demokrasi unras yang berujung kerusuhan bukan peristiwa unik yang terjadi di dunia ini, ini terjadi di negara lain. Tapi, ini peristiwa kerusuhan unik terbesar pertama dalam sejarah Indonesia modern," tegasnya.

    Demo 28-30 Agustus: Kerusuhan Unik di Sejarah Indonesia?
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Pernyataan ini semakin menarik perhatian mengingat pengalaman Budiman sendiri dalam gerakan mahasiswa 1998. Ia membandingkan aksi demonstrasi masa lalu dengan peristiwa terkini. "Saya dulu bikin PRD (Partai Rakyat Demokratik) dengan teman-teman, bikin manifestonya, bikin tuntutannya, bikin analisa politiknya, bikin analisa ekonominya, bikin analisa sejarah, bahkan bikin analisa geopolitknya sehingga kami menuntut Orde Baru harus berhenti misalnya, sehingga kami menuntut harus ada demokrasi multipartai misalnya. Zaman kami dahulu tahun 1998," kenangnya.

    Kontras yang signifikan antara gerakan terorganisir pada era 1998 dengan kerusuhan 28-30 Agustus 2025 menunjukkan adanya perubahan lanskap politik dan sosial yang perlu diteliti lebih dalam. Pernyataan Budiman ini membuka ruang interpretasi luas, mengingatkan kita pada pentingnya memahami akar permasalahan yang memicu kerusuhan tersebut dan mencari solusi untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa di masa depan. Apakah ini pertanda perubahan paradigma gerakan sosial di Indonesia? Pertanyaan ini masih membutuhkan kajian mendalam dari berbagai pihak.

  • 15 Mobil Mewah Anggota DPR Disita KPK!

    15 Mobil Mewah Anggota DPR Disita KPK!

    Politica News – Geger! Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap penyitaan 15 unit mobil mewah milik Satori, anggota DPR dari Fraksi NasDem. Penyitaan ini terkait kasus dugaan korupsi penyelewangan dana sosial Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) dan Penyuluhan Jasa Keuangan (PJK) OJK tahun 2020-2023. Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, membenarkan kabar tersebut pada Selasa (2/9/2025). "Sejak kemarin dan hari ini, penyidik telah menyita 15 kendaraan roda empat milik saudara S (Satori)," tegasnya.

    Koleksi mobil mewah Satori yang disita KPK terbilang beragam dan mengesankan. Daftarnya mencakup tiga unit Fortuner, dua unit Pajero, satu unit Camry, dua unit Brio, tiga unit Innova, satu unit Yaris, satu unit Xpander, satu unit HRV, dan satu unit Alphard. Kendaraan-kendaraan tersebut disita dari beberapa lokasi, termasuk showroom, dan kini telah diamankan di Cirebon, Jawa Barat.

    15 Mobil Mewah Anggota DPR Disita KPK!
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Budi Prasetyo menambahkan bahwa proses penelusuran aset lain yang diduga terkait dengan kasus korupsi ini masih terus berlanjut. "Penyidik masih menelusuri aset-aset lain yang diduga terkait atau merupakan hasil dari dugaan tindak pidana korupsi," jelasnya. Langkah ini, menurutnya, penting untuk proses pembuktian dan optimalisasi asset recovery.

    Sebagai informasi, KPK telah menetapkan dua anggota DPR sebagai tersangka dalam kasus ini. Selain Satori (NasDem), Heri Gunawan alias HG (Gerindra) juga turut menjadi tersangka. Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi pengelolaan dana sosial di Indonesia. Publik menantikan langkah selanjutnya dari KPK dalam mengungkap seluruh jaringan dan aset yang terkait dengan kasus ini. Apakah masih ada kejutan lain yang akan diungkap KPK? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

  • Skandal Tunjangan DPR: Rakyat Terbebani, Elite Bergelimang?

    Skandal Tunjangan DPR: Rakyat Terbebani, Elite Bergelimang?

    Politica News – Sejak zaman Romawi, dilema representasi dan imbalan selalu menjadi perdebatan alot. Bagaimana memberi penghargaan layak bagi wakil rakyat tanpa mengubah jabatan publik menjadi ladang mencari keuntungan? Senat Romawi sendiri pernah memperdebatkan pemberian gaji simbolis agar jabatan tak menjadi profesi, atau gaji memadai agar fokus pada urusan negara. Yunani kuno pun menerapkan prinsip serupa: imbalan kecil bagi juri rakyat agar warga miskin tetap berpartisipasi. Intinya, representasi butuh imbalan, tapi tak boleh menjadi privilese.

    Namun, di Indonesia, logika sederhana ini semakin rumit. Kontroversi tunjangan anggota DPR memicu kemarahan publik. Bukan hanya soal nominal, tapi juga keadilan moral. Pantaskah lembaga dengan kinerja sering dipertanyakan terus menambah fasilitas? Aristoteles mengajarkan keadilan distributif: setiap orang mendapat sesuai kontribusinya. Publik menilai kontribusi DPR tak sebanding dengan imbalan. Kehadiran rapat rendah, legislasi jalan di tempat, pengawasan lemah, sementara kasus etik justru ramai. Jika kontribusi minim, pantaskah imbalan tetap tinggi?

    Skandal Tunjangan DPR: Rakyat Terbebani, Elite Bergelimang?
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Alasan klasik selalu muncul: biaya politik di Indonesia mahal. Calon anggota DPR harus membayar mahar partai, biaya kampanye, dan ongkos tak terlihat lainnya. Gaji dan tunjangan besar dianggap sebagai kompensasi, bahkan kebutuhan. Namun, logika ini berbahaya. Kursi DPR bukan lagi amanat rakyat, melainkan instrumen investasi. Jeffrey Winters menyebutnya oligarki: kekuasaan terpusat di tangan mereka yang bermodal, lalu memanfaatkan jabatan untuk memperkuat posisi. Jika tunjangan dirancang bukan untuk pelayanan publik, melainkan menutupi biaya politik pribadi, representasi menjadi bisnis semata. Pertanyaannya, sampai kapan rakyat harus menanggung beban representasi yang mahal, sementara legitimasi yang didapat begitu murah?

  • Misteri Kematian Driver Ojol: Polri Gelar Perkara!

    Misteri Kematian Driver Ojol: Polri Gelar Perkara!

    Politica News – Polri hari ini menggelar perkara terkait kematian tragis Affan Kurniawan, driver ojek online yang tewas terlindas Rantis Brimob Polda Metro Jaya. Karo Wabprof Propam Polri, Brigjen Pol Agus Wijayanto, menegaskan gelar perkara ini digelar karena investigasi awal menemukan dugaan kuat tindak pidana dalam insiden tersebut. "Hasil pemeriksaan menunjukkan pelanggaran berat, dan ditemukan unsur pidana," tegas Agus, Selasa (2/9/2025).

    Kehadiran pengawas eksternal dari Kompolnas dan Komnas HAM menjadi bukti komitmen Polri untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas proses hukum. Dari internal, Itwasum, Bareskrim, SDM, Divkum, Propam Brimob, dan Mabes Polri turut serta dalam gelar perkara ini. Agus menekankan, keputusan final akan dihasilkan dari gelar perkara tersebut.

    Misteri Kematian Driver Ojol: Polri Gelar Perkara!
    Gambar Istimewa : pict.sindonews.net

    Insiden memilukan yang menewaskan Affan Kurniawan ini bermula saat demonstrasi di Jakarta Pusat yang berakhir ricuh. Tujuh personel Brimob telah ditahan oleh Propam Polri terkait kasus ini, menunjukkan keseriusan aparat dalam mengusut tuntas peristiwa tersebut. Gelar perkara hari ini diharapkan mampu mengungkap seluruh fakta dan memberikan keadilan bagi keluarga korban. Publik pun menantikan hasil akhir dari proses hukum yang sedang berjalan, sekaligus berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Semoga kasus ini menjadi pembelajaran penting bagi penegak hukum dalam menjalankan tugasnya di tengah masyarakat.