politicanews.id – Kalimantan Barat kini di ambang krisis asap. Data terbaru dari BMKG Supadio Pontianak mengungkapkan temuan mengejutkan: 2.434 titik panas terdeteksi dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Angka fantastis ini sontak memicu peringatan serius akan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sangat tinggi, diprediksi akan terus membayangi wilayah tersebut sepanjang pekan ini.
Noven, seorang prakirawan BMKG Supadio, di Sungai Raya, Kamis, menegaskan bahwa situasi ini memerlukan perhatian ekstra dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah. Pasalnya, prakiraan cuaca menunjukkan bahwa sebagian besar Kalbar akan masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar, khususnya pada periode awal September. Kondisi ini diperparah dengan dominasi cuaca cerah berawan dan berawan, diselimuti kabut asap yang mulai terasa sejak pagi hingga malam hari.

Angin di wilayah tersebut umumnya berhembus dari arah tenggara hingga selatan, dengan kecepatan mencapai 10 hingga 35 kilometer per jam. Suhu udara juga terpantau cukup tinggi, berkisar antara 22 hingga 37 derajat Celsius, sementara kelembapan udara berada di rentang 40 hingga 95 persen. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lingkungan yang sangat rentan terhadap penyebaran api.

Related Post
BMKG mendesak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan maksimal. Kenaikan suhu udara dan minimnya potensi hujan menjadi pemicu utama risiko karhutla yang kian membesar. Masyarakat diimbau keras untuk tidak melakukan aktivitas pemicu api, terutama pembakaran lahan, mengingat kondisi kekeringan dapat mempercepat meluasnya kobaran api. Informasi terkini mengenai cuaca dan titik panas dapat diakses melalui aplikasi Info BMKG, situs resmi BMKG Kalbar, atau kanal media sosial lembaga tersebut.
Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, turut menyuarakan keprihatinannya. Ia mengingatkan bahwa dampak pembakaran lahan bisa sangat luas, merugikan ribuan warga melalui ancaman asap terhadap kesehatan dan aktivitas sehari-hari. "Tolonglah, kasihan ribuan orang jadi korban karena asap. Penerbangan pun terganggu, apalagi ini dekat bandara," tegasnya. Norsan juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi petugas dan relawan di lapangan, seperti luasnya lahan gambut, medan yang sulit dijangkau, dan hembusan angin kencang yang mempersulit upaya pemadaman. Salah satu contohnya terlihat di Sekunder C, di mana kebakaran lahan gambut yang luas telah berlangsung selama dua hari, membuat tim pemadam kewalahan.








Tinggalkan komentar