Politica News – Lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Investors Service, baru saja mengumumkan mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2. Kabar baiknya, Indonesia masih satu tingkat di atas batas investment grade. Namun, ada sedikit ganjalan, outlook atau prospek ekonomi Indonesia diturunkan dari stabil menjadi negatif.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro, menjelaskan bahwa keputusan ini adalah hasil akhir dari serangkaian asesmen dan diskusi intensif dengan berbagai kementerian dan lembaga penting. Sebut saja Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, BP BUMN, Otoritas Jasa Keuangan, Danantara Indonesia, hingga Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, semuanya terlibat.

Dalam laporannya, Moody’s mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah diperkirakan akan stabil. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan struktur demografi yang mendukung menjadi fondasi utama. Selain itu, beban utang pemerintah dinilai masih terkendali berkat kehati-hatian dalam kebijakan fiskal dan moneter, serta inflasi yang terjaga.

Related Post
Pemerintah Indonesia, menurut Moody’s, sedang berupaya mempercepat pertumbuhan ekonomi. Kehadiran Danantara diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru yang akan mendorong investasi. APBN juga akan berperan sebagai katalis, menciptakan ekosistem yang sehat melalui program-program yang menyasar langsung masyarakat, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program perumahan rakyat.
Namun, Moody’s memberikan catatan penting. Mereka menekankan perlunya menjaga prediktabilitas kebijakan, komunikasi publik yang efektif, dan koordinasi yang solid antar kementerian/lembaga, terutama di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola ekonomi yang sedang berjalan. Penguatan basis penerimaan negara juga menjadi kunci untuk mendukung belanja prioritas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus melakukan transformasi, menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi, dan mengelola potensi risiko dengan baik. Langkah-langkah seperti debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha dan sinergi dengan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar, dan pasar keuangan akan terus diintensifkan.
Optimisme pemerintah didasarkan pada indikasi perbaikan ekonomi yang sudah terlihat, seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 5,39 persen pada kuartal IV-2025 yang melampaui ekspektasi pasar. "Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi akan terus membaik dengan komitmen pengelolaan ekonomi yang makin baik, ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang meningkat, dan investasi yang meningkat di berbagai sektor sebagai indikator makin kuatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia," ujar Deni. Informasi ini dikutip dari politicanews.id.








Tinggalkan komentar