Warisan Abadi Guruh Soekarnoputra Terungkap

Warisan Abadi Guruh Soekarnoputra Terungkap

politicanews.id – Kabar duka menyelimuti jagat seni Tanah Air. Maestro Guruh Soekarnoputra putra bungsu proklamator bangsa kini telah berpulang. Seniman sekaligus budayawan legendaris ini menghembuskan napas terakhir pada Sabtu pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Jakarta dalam usia 73 tahun. Berita kepergiannya disampaikan oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto pada Sabtu pagi. Kepergian Guruh bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat namun juga jejak panjang tak terhapuskan dalam khazanah seni Indonesia. Selama puluhan tahun ia dikenal sebagai sosok multitalenta mulai dari pencipta lagu komposer koreografer penata musik hingga penggagas pertunjukan seni berskala raksasa. Namanya tak bisa dilepaskan dari upaya visioner untuk menyatukan musik modern dengan kekayaan tradisi Nusantara.

Benih kecintaan Guruh pada dunia seni telah tumbuh sejak usia belia. Berdasarkan arsip Arsip Nasional Republik Indonesia ANRI ia telah mendalami berbagai tarian tradisional seperti Jawa Sunda Bali dan Minang sejak dini. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar ia bahkan beberapa kali tampil di TVRI bersama kelompok musik yang dibentuknya. Memasuki masa remaja pada 1965 Guruh membentuk grup musik The Beat-G. Perjalanannya terus berkembang pada 1970 ia mendirikan The Flower Poetman. Di waktu yang sama Guruh aktif menyelami seni tradisional bergabung dengan kelompok gamelan Bali mengikuti latihan teater serta mengorganisasi kelompok angklung dan gamelan Jawa di lingkungan Perguruan Cikini. Bahkan ketika menempuh pendidikan di Universiteit van Amsterdam Belanda pada awal 1970-an minatnya terhadap kesenian Nusantara tak luntur. Guruh bergabung dengan kelompok gamelan Jawa dan Bali di Tropen Museum Amsterdam bahkan mengajar gamelan dan tari Bali. Pengalaman ini membentuk pandangannya bahwa musik modern tak harus meninggalkan akar tradisi lokal.

Warisan Abadi Guruh Soekarnoputra Terungkap
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan musik Guruh adalah lahirnya Guruh Gipsy. Sekembalinya dari Belanda pada 1975 Guruh memulai eksperimen berani memadukan gamelan Bali dengan musik Barat. Eksplorasi ini kemudian melahirkan album Guruh Gipsy sebuah proyek musik yang digarap bersama kelompok Gipsy. Formasi intinya diisi oleh Keenan Nasution pada drum dan vokal Chrisye pada bass dan vokal Roni Harahap pada piano dan keyboard Oding Nasution pada gitar serta Abadi Soesman pada synthesizer. Guruh sendiri memainkan piano gamelan sekaligus menggarap lirik. Album yang dirilis pada 1976 ini kerap dianggap sebagai salah satu penanda sejarah musik Indonesia. Proses produksinya berlangsung cukup panjang sejak 1975 hingga 1976 dengan materi seperti Geger Gelgel Barong Gundah Smaradhana Indonesia Maharddhika Janger 1897 Saka dan Chopin Larung. Menariknya karya ini tak sekadar mencampur bunyi gamelan dengan rock. Guruh juga menyematkan gagasan tentang identitas kebudayaan dan keresahan terhadap perubahan zaman ke dalam musiknya. Indonesia Maharddhika misalnya menjadi salah satu karya paling dikenal dari proyek tersebut sementara Smaradhana semakin populer lewat suara emas Chrisye. Eksperimen Guruh Gipsy membuktikan bahwa unsur tradisional dapat ditempatkan dalam komposisi musik modern tanpa kehilangan karakter aslinya. Jejak ini kembali terlihat saat Guruh Gipsy tampil di Synchronize Fest 2025 di mana Guruh bersama Keenan Nasution dan Abadi Soesman kembali membawakan karya-karya ikonik tersebut dengan dukungan musisi serta seniman lintas generasi sebagai penghormatan bagi personel yang telah berpulang.

COLLABMEDIANET

Kiprah Guruh di dunia musik tak berhenti pada Guruh Gipsy. Pada 1976 lagu ciptaannya berjudul Renjana memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional dan membawa nama Indonesia ke World Popular Song Festival di Tokyo Jepang. Setelah itu berbagai lagu ciptaannya bermunculan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah musik populer Indonesia seperti Galih dan Ratna Gita Cinta Anak Jalanan Lenggang Puspita Sendiri dan Marlina. Karya penting lainnya adalah Kembalikan Baliku yang dibawakan Jopie Latul. Lagu ini kembali membawanya ke ajang Festival Lagu Populer Indonesia dan World Popular Song Festival di Tokyo. Dalam karya itu Guruh memadukan unsur musik tradisional Bali dengan nuansa disko dan rock. Pola ini memperlihatkan ciri khasnya yang terus muncul dalam berbagai karya modern namun tetap membawa identitas Indonesia.

Pada 1977 Guruh mendirikan Swara Maharddhika sebuah organisasi yang menjadi wadah kreativitas anak muda dalam bidang seni. Di sinilah berbagai gagasannya mengenai musik tari dan pertunjukan berkembang menjadi produksi panggung yang lebih besar. Guruh menggabungkan tari tradisional Indonesia dengan tari modern Barat dan mengemasnya dalam pertunjukan populer yang dapat diterima masyarakat luas. Guruh kemudian melahirkan rangkaian Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra. Dimulai dari Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I pada 1979 perjalanan tersebut berlanjut melalui Untukmu Indonesiaku pada 1980 Cinta Indonesia pada 1984 hingga Gilang Indonesia Gemilang pada 1986. Pertunjukan-pertunjukan itu tidak hanya mengandalkan musik. Di dalamnya terdapat tari koreografi busana tata panggung dan unsur teatrikal yang dirancang sebagai satu kesatuan utuh. Guruh sendiri tak sekadar menjadi pencipta lagu. Dalam sejumlah pertunjukan ia berperan sebagai komposer koreografer sekaligus sutradara. Karya-karya kolosal tersebut kemudian berkembang ke sejumlah pertunjukan lain termasuk penampilan pada pembukaan PON ke-10 di Jakarta pada 1981 pembukaan Pekan Raya Jakarta pada 1982 Gempita Swara Maharddhika pada 1987 serta pertunjukan kolosal JakJakJakJak Jakarta pada 1989. Konsepnya relatif konsisten membawa seni tradisional Indonesia ke panggung besar dengan bahasa pertunjukan yang lebih modern.

Swara Maharddhika kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Maharddhika pada 1988. Guruh juga mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa atau GSP Productions untuk mengembangkan kegiatan seni pertunjukan secara lebih profesional. Pertunjukan yang dihasilkan tidak hanya digelar di Indonesia tetapi juga pernah dibawa ke sejumlah negara termasuk Singapura Maroko Tunisia Yordania Jerman Belgia Denmark Swedia Swiss dan Australia. Dari lingkungan Swara Maharddhika pula muncul sejumlah nama yang kemudian dikenal luas di industri hiburan Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Titi DJ Deni Malik Dewi Gita Memes Irianti Erningpraja Euis Dahlia dan Rico Tampatty. Ini menunjukkan kontribusi Guruh bukan hanya melalui lagu yang ia ciptakan tetapi juga melalui ruang yang ia bangun bagi generasi seniman dan pekerja seni berikutnya.

Kiprah Guruh juga merambah dunia film. Ia terlibat sebagai ilustrator musik untuk sejumlah film termasuk Ali Topan Anak Jalanan Gita Cinta dari SMA dan Puspa Indah Taman Hati. Pada 1977 ia juga tercatat mendapat penghargaan ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia. Di depan kamera Guruh pernah memerankan Sunan Muria dalam film Wali Songo pada 1985. Sementara di dunia tari ia dikenal sebagai koreografer yang konsisten mengembangkan pertemuan antara gerak tradisional dan modern. Ketertarikannya pada tari bahkan sudah berkembang jauh sebelum ia dikenal sebagai komposer. Sejak muda Guruh belajar langsung kepada sejumlah maestro tari dan gamelan Bali termasuk I Wayan Diya I Wayan Rindi Anak Agung Ayu Oka Ni Ketut Reneng I Nyoman Kakul I Gusti Kompyang Raka dan sejumlah seniman lainnya. Ia juga belajar musik dari komponis Mochtar Embut dan Ismail Marzuki. Karena itu menyebut Guruh hanya sebagai pencipta lagu sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan perjalanan seninya. Ia bergerak di antara musik tari koreografi teater film tata busana dan pertunjukan kolosal.

Menariknya karya Guruh tetap menemukan jalan untuk dikenalkan kepada pendengar dari generasi yang berbeda. Pada 2014 misalnya konser Salute to Guruh Soekarno Putra menampilkan kembali 25 lagu ciptaannya melalui interpretasi musisi lintas generasi. Lagu-lagu seperti Zamrud Khatulistiwa Kembalikan Baliku Galih dan Ratna dan Gita Cinta dari SMA menjadi bagian dari konser tersebut. Kemudian pada 2020 Musica Studios merangkum 10 karya Guruh dalam album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan ulang oleh sejumlah musisi lintas generasi di antaranya Noah Iwan Fals D’MASIV Kahitna Afgan Geisha Sheryl Sheinafia dan Vidi Aldiano. Daftar lagunya mencakup Kala Cinta Menggoda Aji Mumpung Sendiri Kala Sang Surya Tenggelam dan Zamrud Khatulistiwa. Karya-karya itu memperlihatkan bahwa lagu Guruh tidak berhenti pada satu periode musik tertentu. Lagu-lagu tersebut terus mendapatkan interpretasi baru ketika dinyanyikan oleh musisi dari generasi berbeda.

Menjelang akhir hayatnya pun Guruh masih berbicara tentang seni dan kebudayaan. Pada Januari 2026 ia hadir dalam temu media musikal Bukan Cinta Galih/Ratna dan menekankan pentingnya seni sebagai medium untuk menyampaikan nilai serta membentuk karakter generasi muda. Jika melihat perjalanan panjangnya ada satu benang merah yang cukup jelas dari karya-karya Guruh keinginan untuk membawa identitas Indonesia ke dalam bentuk seni yang bisa diterima zamannya. Ia tidak menempatkan tradisi dan modernitas sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya justru dipertemukan dalam musik tari busana dan pertunjukan. Dari eksperimen Guruh Gipsy pada era 1970-an panggung Swara Maharddhika lagu-lagu populer seperti Galih dan Ratna serta Zamrud Khatulistiwa hingga kemunculan kembali Guruh Gipsy di panggung Synchronize Fest 2025 jejak tersebut masih bisa ditemukan. Guruh Soekarnoputra kini telah berpulang. Namun musik dan karya seni yang ia tinggalkan masih memiliki ruang untuk terus didengar dipentaskan dan ditafsirkan oleh generasi berikutnya. Bagi dunia musik Indonesia warisan Guruh bukan semata-mata daftar lagu atau pertunjukan. Lebih dari itu ia meninggalkan gagasan bahwa musik populer pun bisa menjadi ruang untuk merawat identitas memperkenalkan kembali tradisi dan berbicara tentang Indonesia dengan bahasa yang terus berubah mengikuti zaman.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar