politicanews.id – Dunia politik tanah air mendadak gempar setelah mencuatnya kasus dugaan penyadapan ilegal yang menyeret nama besar mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Skandal yang melibatkan penghapusan data elektronik ini memicu reaksi keras dari berbagai lini kekuatan politik di Indonesia.
Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar memberikan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi situasi krisis ini. Cak Imin secara khusus memuji langkah sigap Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto yang dinilai sangat efektif dalam melindungi integritas kepala negara dari ancaman penyadapan tersebut. Meski memberikan apresiasi, PKB menekankan agar kasus ini menjadi peringatan keras agar tidak ada lagi pihak yang berani bermain-main dengan keamanan negara.

Di sisi lain, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono memberikan peringatan tajam melalui media sosialnya. AHY menegaskan bahwa praktik penyadapan ilegal bukan sekadar pelanggaran hukum biasa melainkan bentuk penyalahgunaan wewenang yang sangat berbahaya. Menurutnya, tindakan ini secara langsung mengancam privasi warga negara serta merusak fondasi demokrasi dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Related Post
Rentetan kasus ini mulai terungkap setelah kepolisian menetapkan empat orang sebagai tersangka utama. Nama-nama yang terlibat mencakup mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Kadiv Hukum Polri Ahrie Sonta Nasution, serta Widyaiswara Lemdiklat Polri Eko Hadi Santoso. Tak berhenti di situ, polisi juga menetapkan Slamet Uliandi sebagai tersangka tambahan dalam rangkaian kasus yang sama.
Saat ini, tiga tersangka pertama telah resmi mendekam di Rutan Mako Brimob Depok untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Sementara itu, tersangka terakhir dilaporkan belum bisa ditahan karena alasan kesehatan pascastroke. Publik kini menanti bagaimana transparansi hukum akan dijalankan untuk menuntaskan skandal yang mengguncang stabilitas nasional ini.










Tinggalkan komentar