politicanews.id – Indonesia kini berada di ambang transformasi ekonomi besar melalui pemanfaatan mineral kritis. PT Danantara Development Management Fund (DDMF) menegaskan bahwa kunci utama untuk meraih keuntungan maksimal bukan sekadar pada kapasitas pengolahan, melainkan pada ketangguhan rantai pasok yang terintegrasi. Investasi yang terkoordinasi dan penguatan kemampuan domestik menjadi syarat mutlak agar nilai tambah mineral tidak hanya berhenti di tahap ekstraksi awal.
Potensi lonjakan nilai ekonomi dari sektor ini sangatlah fantastis. Sebagai gambaran, bijih nikel yang awalnya hanya bernilai 30 dolar AS per ton dapat melonjak hingga 3.628 dolar AS per ton saat diolah menjadi bahan baku baterai. Bahkan, pada tahapan produk baterai tertentu, nilai tambahnya bisa melesat hingga 642 kali lipat. Fenomena ini diprediksi akan mendongkrak nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia hingga mencapai 50 miliar dolar AS pada akhir 2026 mendatang.

Melihat peluang tersebut, kebutuhan baterai di Indonesia diproyeksikan melonjak tajam. Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan baterai nasional akan menyentuh angka 108,2 gigawatt-jam pada 2030. Sementara itu, untuk mendukung ambisi kendaraan listrik, terdapat celah investasi sebesar 407 gigawatt-jam yang masih terbuka lebar. Kondisi ini menuntut adanya kerja sama strategis antarnegara, terutama di kawasan ASEAN dan Afrika, guna membangun ekosistem industri yang kuat.

Related Post
Managing Director Development Investment DDMF, M Rachmat Kaimuddin, menekankan bahwa investasi masa depan tidak boleh hanya mengejar imbal hasil finansial semata. Investasi harus mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing industri, dan memberikan dampak kesejahteraan yang merata bagi masyarakat. Mineral kritis harus dipandang sebagai instrumen transformasi ekonomi untuk membawa Indonesia naik kelas di kancah industri global melalui penguasaan teknologi dan industrialisasi yang mendalam.










Tinggalkan komentar