politicanews.id – Sebuah pertemuan penting yang menarik perhatian global terjadi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di India. Presiden Rusia Vladimir Putin secara khusus berdialog dengan Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, menandai babak baru dalam dinamika hubungan kedua negara yang telah lama terjalin.
Kunjungan kerja Putin ke New Delhi selama tiga hari, yang dimulai pada Jumat, menjadi sorotan utama. Setelah serangkaian agenda padat KTT BRICS yang berlangsung pada 12-13 September, pemimpin Rusia itu meluangkan waktu untuk pertemuan bilateral yang dinanti-nantikan dengan kepala pemerintahan Ethiopia.

Dalam diskusi hangat tersebut, Putin menegaskan kembali posisi Ethiopia sebagai mitra strategis Rusia yang terpercaya di Benua Afrika. "Hubungan antara Rusia dan Ethiopia terus berkembang pesat, berlandaskan pada prinsip kesetaraan dan keuntungan bersama," ujar Putin, seraya mengapresiasi kontribusi konstruktif Ethiopia dalam kerangka kerja sama BRICS. Momen istimewa lainnya adalah ucapan selamat Putin kepada Ahmed atas perayaan Tahun Baru Ethiopia yang baru saja berlalu.

Related Post
Tak hanya itu, Putin juga menyampaikan undangan resmi kepada Perdana Menteri Ahmed untuk menghadiri KTT Rusia-Afrika. Acara akbar tersebut dijadwalkan berlangsung di Moskow pada 28-29 Oktober mendatang, menunjukkan komitmen Rusia dalam mempererat ikatan dengan negara-negara di benua hitam.
Menanggapi hal tersebut, PM Abiy Ahmed menggarisbawahi kemajuan signifikan dalam kolaborasi perdagangan dan investasi antara Rusia dan Ethiopia. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas program beasiswa yang diberikan Rusia, yang telah membuka kesempatan pendidikan bagi banyak mahasiswa Ethiopia.
Penasihat Presiden Rusia Yuri Ushakov sebelumnya telah memberikan sinyal mengenai pentingnya pertemuan ini, menyebutkan bahwa kedua negara memiliki sejarah panjang persahabatan dan kontak politik yang aktif. Ushakov memprediksi bahwa dialog antara Putin dan Ahmed akan menjadi sangat menarik dan krusial bagi kedua belah pihak.
Agenda pembahasan diperkirakan mencakup berbagai isu bilateral yang mendalam, serta persoalan-persoalan internasional terkini yang mendesak. Situasi di Timur Tengah dan perkembangan terkait Iran disebut-sebut menjadi salah satu topik utama yang akan dibahas, menunjukkan cakupan diskusi yang luas dan strategis.










Tinggalkan komentar