Politica News – Ribuan warga, termasuk wisatawan lokal dan mancanegara, memadati Pantai Seger, Lombok Tengah, hingga area dekat Sirkuit Mandalika, pada akhir pekan lalu. Kedatangan mereka bertujuan untuk berburu nyale (cacing laut), yang dipercaya sebagai reinkarnasi legenda Putri Mandalika, dalam tradisi Bau Nyale. Namun, hasil tangkapan mengecewakan banyak pemburu.
Koko, seorang warga Mataram, mengungkapkan kekecewaannya. "Nyale yang keluar hari ini sedikit," ujarnya pada Minggu (9/2). Ia dan pemburu lainnya telah tiba sejak Sabtu sore (7/2) dan bertahan hingga Minggu dini hari (8/2), membawa peralatan seperti jaring, ember, dan senter. Namun, kenyataan di lapangan tak seindah yang dibayangkan. Mencari nyale ternyata sulit dan membutuhkan ketekunan ekstra di tengah kegelapan. "Saya cari nyale tiga jam, dapat sedikit. Saya kira bisa dapat satu ember," keluhnya.

Tradisi Bau Nyale sendiri merupakan ritual tahunan yang penting bagi masyarakat Lombok. Gubernur NTB, Lalu M Iqbal, saat membuka acara puncak Bau Nyale, berharap hujan yang mengguyur malam itu membawa berkah bagi masyarakat NTB. Ia menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan tentang pengorbanan demi kepentingan bersama. "Nyale ini mengajarkan semua tentang pengorbanan," tegasnya.

Related Post
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mengembangkan dan melestarikan budaya Bau Nyale. Ia meyakini bahwa pengembangan budaya ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan mendukung promosi pariwisata di Lombok Tengah. "Semua side event Bau Nyale ini dilaksanakan untuk memperkuat pengembangan budaya dalam mendukung promosi pariwisata," jelasnya.
Pemerintah daerah berharap, tradisi Bau Nyale dapat terus menjadi daya tarik wisata yang unik dan berkelanjutan bagi Lombok Tengah. Meskipun hasil perburuan nyale kali ini kurang memuaskan, semangat untuk melestarikan tradisi dan mempromosikan pariwisata tetap tinggi. Puncak Bau Nyale berikutnya telah disepakati berdasarkan musyawarah tokoh adat, yaitu pada 7-8 Februari 2026. Informasi ini dilansir dari politicanews.id.










Tinggalkan komentar