politicanews.id – Dunia kembali menyoroti program nuklir Iran. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Mariano Grossi secara tegas menyatakan bahwa pemeriksaan fasilitas pengayaan uranium di Iran akan tetap berlangsung, meski Teheran melayangkan penolakan keras. Pernyataan ini muncul di tengah konferensi pers Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang, seperti dilansir Euronews.
Grossi membantah klaim Iran yang menolak adanya kesepakatan inspeksi. Menurutnya, nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Amerika Serikat secara gamblang mengamanatkan pengawasan penuh IAEA terhadap seluruh aktivitas material nuklir. "Tentu saja, untuk itu, kami harus melakukan inspeksi. Apakah inspeksi dilakukan dalam dua hari, satu pekan, atau 10 hari ke depan memang penting, tetapi bukan hal yang esensial. Inspeksi tersebut akan tetap dilakukan," tegas Grossi, menegaskan posisi tak tergoyahkan badan atom dunia itu.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras bahwa Iran telah menyetujui kedatangan inspektur nuklir, meskipun Teheran menampik dengan dalih para inspektur akan berada di lapangan pada waktu yang tepat. Trump juga membantah klaim Iran yang menyebut tidak ada jadwal kunjungan bagi inspektur IAEA, meskipun Wakil Presiden AS J.D. Vance telah mengumumkan kesediaan Iran menerima kembali tim pemeriksa nuklir tersebut.

Related Post
Amerika Serikat dan Iran pekan lalu telah menandatangani nota kesepahaman secara daring, membuka babak negosiasi selama 60 hari. Perundingan ini bertujuan menyelesaikan berbagai sengketa, termasuk nasib persediaan uranium yang diperkaya Iran, program nuklir, dan isu-isu lain yang belum tuntas.
Dokumen berisi 14 poin tersebut mencakup beberapa tuntutan krusial. Di antaranya, moratorium total dan abadi operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon, penghapusan blokade angkatan laut terhadap Iran, serta penetapan koridor aman bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz. Kesepakatan itu juga menguraikan rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi untuk Iran senilai minimal 300 miliar dolar AS, pengecualian ekspor minyak, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta komitmen ulang Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.








Tinggalkan komentar