politicanews.id – Kondisi ekonomi Indonesia diprediksi bakal menghadapi tantangan berat pada tahun 2026 mendatang. Berdasarkan analisis terbaru, defisit transaksi berjalan diperkirakan bakal membengkak secara signifikan menjadi 2,49 persen dari PDB, melonjak jauh dari angka 0,09 persen yang tercatat pada tahun 2025.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman, mengungkapkan bahwa fenomena ini dipicu oleh kombinasi tekanan dari sisi impor dan melemahnya kinerja ekspor. Salah satu faktor utama adalah ambisi pemerintah dalam mengejar pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang secara otomatis akan memicu lonjakan permintaan barang impor di dalam negeri.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik dunia, terutama konflik di Timur Tengah, menjadi ancaman nyata. Situasi ini berisiko memicu kenaikan harga minyak global yang dapat membengkakkan nilai impor energi Indonesia. Di sisi lain, ancaman fenomena El Nino juga berpotensi memaksa pemerintah meningkatkan impor pangan demi menjaga stabilitas inflasi domestik.

Related Post
Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja ekspor yang diprediksi akan terus melambat. Perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia menjadi faktor penghambat utama. Belum lagi adanya risiko fragmentasi perdagangan global akibat perang dagang yang membuat akses pasar ekspor semakin sulit ditembus.
Dampak dari pelebaran defisit ini juga akan menekan cadangan devisa negara. Cadangan devisa diproyeksikan merosot ke angka kisaran 143 hingga 147 miliar dolar AS pada akhir 2026, turun dari posisi 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025.
Meskipun aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan tren positif dengan kenaikan PMI Manufaktur S&P Global ke angka 52,4, namun hal tersebut justru menjadi pisau bermata dua karena dapat mendorong pertumbuhan impor yang lebih masif. Para pengamat kini menyoroti perlunya kewaspadaan ekstra dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang semakin tidak menentu.










Tinggalkan komentar