Desa Ini Punya ATM Hidup Panen Uang Tiap Hari

Desa Ini Punya ATM Hidup Panen Uang Tiap Hari

politicanews.id – Di tengah hijaunya belantara Maluku tersembunyi sebuah kisah inspiratif dari Negeri Neniari Kabupaten Seram Bagian Barat. Di sana getah damar bukan sekadar hasil hutan melainkan urat nadi kehidupan yang mengalirkan rezeki tak terputus bagi warganya. Pemanfaatan getah damar ini menjadi bukti nyata bahwa hutan dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan tanpa harus merusak atau menebang pohonnya.

Masyarakat Neniari telah memanen getah damar dari pohon-pohon yang tumbuh subur di hutan secara turun-temurun. Hasil panen ini kemudian dijual untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga mulai dari pangan sehari-hari hingga biaya pendidikan anak-anak mereka. Bagi penduduk setempat pohon damar adalah "ATM" hidup yang selalu siap mencairkan uang.

Desa Ini Punya ATM Hidup Panen Uang Tiap Hari
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Maku Rumahsoal seorang petani damar mengungkapkan betapa pentingnya komoditas ini. "Kalau di sini damar itu seperti ATM. Kalau sudah turun dari hutan berarti sebentar ada uang" ujarnya menggambarkan stabilitas pendapatan yang dihasilkan. Berbeda dengan hasil perkebunan lain seperti pala atau cengkih yang panennya musiman getah damar bisa dipanen sepanjang tahun. Petani damar Leu Sasake menegaskan "Setiap hari keluar getah jadi seng (tidak) ada musim."

COLLABMEDIANET

Perjalanan menuju hutan damar memang tidak mudah membutuhkan waktu sekitar enam jam berjalan kaki. Setelah menyadap getah warga harus memikul hasil panen kembali ke kampung. Namun kini proses penjualan lebih mudah karena para pembeli sudah datang langsung ke Negeri Neniari. Getah damar dijual dengan harga bervariasi antara Rp12.500 hingga Rp25.000 per kilogram tergantung kualitas dan lokasi penjualan. Sebuah keluarga bisa memiliki lebih dari seribu batang pohon damar.

Ketua Adat Negeri Neniari Meki Lemosol menyebutkan bahwa masyarakat mampu memproduksi sekitar tiga ton getah damar setiap bulannya. "Mau ambil banyak bisa tinggal kuat pikulkah seng (tidak)" katanya menggambarkan potensi besar yang ada. Pendapatan dari penjualan damar ini telah membantu banyak keluarga menyekolahkan anak-anak mereka bahkan hingga jenjang perguruan tinggi.

Model pengelolaan hutan lestari di Negeri Neniari ini menjadi contoh gemilang bahwa hutan dapat menopang ekonomi masyarakat tanpa harus dialihfungsikan atau dirusak. Potensi serupa juga ditemukan di Distrik Kais Darat Kabupaten Sorong Selatan Papua Barat Daya. Kajian Yayasan EcoNusa menunjukkan kawasan tersebut masih memiliki populasi damar putih (Agathis spp) yang melimpah di Kampung Hohore dan Kampung Siranggo. Ini membuka peluang besar untuk dikembangkan sebagai komoditas hasil hutan bukan kayu yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat adat.

Pengalaman sukses pengelolaan hutan berkelanjutan oleh masyarakat ini akan menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam PAPEDA (Papua Action for Development Economy and Sustainable Nature) Summit 2026. Forum yang akan diselenggarakan di Sorong Papua Barat Daya pada 2-4 September 2026 tersebut akan fokus pada penguatan ekonomi berbasis sumber daya lokal pengelolaan hutan lestari serta peran vital masyarakat adat dalam menjaga kelestarian hutan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar