politicanews.id – Masyarakat di Pulau Dewata diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi akan segera melanda. Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memberikan peringatan dini terkait potensi curah hujan dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari biasanya saat musim hujan tiba.
Fenomena unik diprediksi akan terjadi karena durasi musim hujan kali ini diperkirakan jauh lebih singkat dibandingkan periode normal. Kondisi ini justru memicu akumulasi curah hujan yang sangat deras dalam waktu yang relatif cepat. Berdasarkan data prakiraan, musim hujan di Bali dijadwalkan mulai masuk pada akhir November 2026 dan diperkirakan mencapai titik puncaknya pada Februari 2027.

Trayi Budi Samantu selaku prakirawan Stasiun Klimatologi Bali mengungkapkan bahwa durasi musim hujan yang lebih pendek ini merupakan dampak dari fenomena El Nino yang memperpanjang masa musim kering. Hal ini menyebabkan pergeseran waktu musim hujan di seluruh wilayah Bali. Tercatat seluruh zona musim di Bali mengalami keterlambatan dibandingkan jadwal normalnya.

Related Post
Secara mendetail, wilayah pesisir barat, utara, dan timur Bali diperkirakan hanya akan mengalami musim hujan selama 10 hingga 15 dasarian saja. Bahkan untuk wilayah timur hingga Nusa Penida, durasinya diprediksi lebih singkat yakni hanya sekitar 10 hingga 12 dasarian. Sebaliknya, wilayah Bali bagian tengah diprediksi akan memiliki masa hujan yang lebih lama, yakni berkisar antara 16 hingga 18 dasarian.
Terkait waktu mulainya hujan, sekitar 15 persen wilayah seperti Kecamatan Banjar, Sukasada, Baturiti, Pupuan, Petang, dan Payangan diprediksi mulai diguyur hujan pada akhir November 2026. Sementara itu, mayoritas wilayah lainnya atau sekitar 85 persen diprakirakan baru akan memasuki musim hujan pada bulan Desember. Secara keseluruhan, sebagian besar wilayah Bali diperkirakan akan terus mengalami musim hujan hingga April 2026.










Tinggalkan komentar