politicanews.id – Sebuah babak baru yang sangat dinantikan akan segera dimulai. Iran dan Amerika Serikat dipastikan akan melanjutkan perundingan penting guna mencapai kesepakatan final perdamaian. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengumumkan bahwa pembicaraan krusial ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat, menyusul penandatanganan resmi nota kesepahaman (MoU) yang menandai berakhirnya perang antara kedua negara.
Dalam pertemuan dengan para diplomat asing di Teheran, Araghchi membeberkan detail MoU perdamaian yang berhasil difinalisasi pada Minggu lalu, berkat peran mediasi Pakistan. Ia menjelaskan, mengingat rumitnya mencapai konsensus antara Iran dan AS, terutama setelah serangkaian tindakan agresif yang memicu konflik dari pihak AS dan Israel terhadap negaranya, kedua belah pihak sepakat membagi proses perundingan menjadi dua fase.

Fase awal perundingan ini secara khusus berpusat pada penyelesaian MoU. Poin-poin penting yang tercakup meliputi deklarasi penghentian perang secara menyeluruh, status Selat Hormuz, upaya pencabutan blokade laut yang diberlakukan AS terhadap Iran, pembebasan aset-aset Iran yang sempat dibekukan, hingga rencana rekonstruksi pasca-konflik.

Related Post
Setelah fase pertama rampung, perundingan akan berlanjut ke tahap kedua selama 60 hari ke depan. Fokus utamanya adalah penyelesaian isu nuklir serta pencabutan sanksi yang membelenggu Iran. Araghchi menegaskan, deklarasi penghentian perang menjadi inti utama dari fase awal ini. Meski secara verbal penghentian perang telah diumumkan pada Senin pagi saat kesepakatan difinalisasi, implementasi resmi MoU baru akan berlaku efektif pada Jumat.
Salah satu poin paling krusial dalam MoU ini adalah penghentian perang yang bersifat "segera dan permanen" di seluruh medan konflik, termasuk di Lebanon. Araghchi menjelaskan, konflik di Lebanon serta tindakan militer Israel di Lebanon selatan memiliki korelasi erat dengan perang melawan Iran, menjadikan kedua front tersebut kini saling terkait dan bergantung satu sama lain.
Sang menlu menggambarkan penghentian perang di Lebanon sebagai elemen "tak terpisahkan" dari kesepakatan damai Iran-AS. Lebih lanjut, poin ini juga mencakup berakhirnya pendudukan Israel. Araghchi secara tegas menyatakan bahwa penghentian konflik tidak akan dianggap tuntas tanpa penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah-wilayah Lebanon yang selama ini mereka duduki.
Iran menegaskan, mulai saat ini, setiap serangan militer yang dilancarkan oleh Israel terhadap Lebanon, serta kelanjutan pendudukan atas wilayah-wilayah Lebanon, akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap nota kesepahaman perdamaian yang telah disepakati.
Sebagai latar belakang, pada 28 Februari lalu, Israel dan AS sempat melakukan ofensif gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lain di Iran. Iran merespons dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone, menargetkan Israel serta pangkalan dan aset AS yang tersebar di kawasan tersebut.










Tinggalkan komentar