TERBONGKAR ALASAN BBM NONSUBSIDI MENCEKIK DOMPET

TERBONGKAR ALASAN BBM NONSUBSIDI MENCEKIK DOMPET

politicanews.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi belakangan ini ternyata bukan sekadar penyesuaian biasa. Para pakar mengungkap, di balik kebijakan ini tersimpan strategi besar pemerintah untuk membentengi nilai tukar rupiah dari gempuran dolar Amerika Serikat sekaligus menyelamatkan keuangan negara. Langkah ini disebut sebagai upaya krusial demi menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global yang tak menentu.

Bonti Wiradinata, seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa fluktuasi harga Pertamax, sebagai jenis BBM nonsubsidi, sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak dunia dan kekuatan rupiah. Ketika kedua faktor vital ini terus-menerus tertekan dalam jangka waktu panjang, pemerintah mau tidak mau harus mengambil tindakan korektif. Menunda penyesuaian harga justru akan memicu beban fiskal yang jauh lebih besar bagi negara dan entitas usaha energi.

TERBONGKAR ALASAN BBM NONSUBSIDI MENCEKIK DOMPET
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Menurut Bonti, keputusan pemerintah untuk menahan harga selama beberapa bulan terakhir memang patut diacungi jempol karena telah memberikan semacam peredam guncangan ekonomi dan psikologis bagi masyarakat. Namun, ia menegaskan, semakin lama kebijakan koreksi harga ditangguhkan, semakin berat pula tekanan yang harus ditanggung. Menjaga harga BBM nonsubsidi di bawah harga keekonomian secara berkelanjutan berpotensi menguras likuiditas dan memperbesar kebutuhan subsidi energi. Oleh karena itu, penyesuaian harga dipandang sebagai langkah pragmatis untuk menjaga kondisi keuangan negara tetap sehat.

COLLABMEDIANET

Dengan melakukan adaptasi harga, pemerintah berupaya menekan risiko lonjakan biaya kompensasi energi. Ini adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap dapat dialokasikan untuk pembiayaan prioritas lain yang lebih mendesak. Bonti juga menambahkan, potensi reaksi publik akibat kenaikan Pertamax cenderung lebih terkendali dibandingkan jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Hal ini karena pengguna Pertamax umumnya berasal dari segmen masyarakat yang memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengatur pola konsumsi energinya.

Senada dengan pandangan tersebut, Sekretaris Eksekutif Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Rio Priambodo menyatakan pihaknya menyadari bahwa harga BBM nonsubsidi memang dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak global dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Namun, Rio menekankan bahwa kenaikan harga Pertamax harus diiringi dengan peningkatan mutu pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh konsumen. Masyarakat berhak memperoleh kualitas produk dan layanan yang sepadan dengan nilai yang mereka bayarkan.

Rio menegaskan, konsumen berhak mendapatkan jaminan mutu bahan bakar, kemudahan akses, pasokan yang lancar, ketepatan volume takaran, hingga pelayanan yang lebih baik di seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum. Konsumen tidak boleh hanya diminta untuk menerima kenaikan harga tanpa memperoleh peningkatan manfaat dan kualitas layanan yang sepadan.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar