Politica News – Kremlin menegaskan bahwa Rusia dan Amerika Serikat (AS) masih berupaya merealisasikan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan di Anchorage, Alaska, tahun lalu, terkait penyelesaian konflik Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam konferensi pers di Moskow, Senin (9/2), menekankan komitmen Rusia untuk memajukan proses perdamaian.
Peskov menyoroti "semangat Anchorage" yang diyakini Kremlin dapat menjadi terobosan dalam menyelesaikan konflik Ukraina. "Pemahaman yang dicapai di Anchorage ini sangat mendasar, dan mampu memajukan proses penyelesaian serta memungkinkan terobosan," ujarnya, menekankan pentingnya diskusi tertutup tanpa tekanan publik.

Kremlin juga menanti respons AS terhadap usulan Presiden Vladimir Putin terkait penggunaan aset Rusia yang dibekukan di AS untuk membayar keanggotaan di Dewan Perdamaian yang dipromosikan AS.

Related Post
Namun, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengungkapkan kekecewaannya terhadap AS, mengklaim bahwa AS tidak lagi siap menerapkan usulan yang diajukan di Anchorage. Lavrov juga menguraikan syarat-syarat untuk mengakhiri konflik di Ukraina, menyiratkan ketidakpastian prospek kerjasama ekonomi dengan AS.
Selain isu Ukraina, Peskov juga mengkritik sanksi AS terhadap Kuba sebagai "taktik mencekik," dan menyatakan Rusia tengah berdialog dengan Havana untuk memberikan bantuan. Situasi bahan bakar di Kuba memburuk setelah operasi militer AS di Venezuela, salah satu pemasok minyak utama ke Kuba.
Sebelumnya, AS mengeluarkan perintah eksekutif yang mengizinkan bea masuk atas barang-barang dari negara-negara pemasok minyak ke Kuba dan menyatakan keadaan darurat, dengan alasan ancaman dari negara kepulauan tersebut. Situasi ini menambah kompleksitas hubungan Rusia-AS di tengah konflik Ukraina dan isu-isu global lainnya. Informasi ini dilansir Politica News – dari berbagai sumber terpercaya.










Tinggalkan komentar