politicanews.id – Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz mulai memicu efek domino yang mengerikan bagi stabilitas ekonomi global. Memasuki bulan kedelapan penutupan jalur vital tersebut, negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) kini berada di ambang kontraksi ekonomi yang signifikan. Analisis terbaru dari broker Octrado menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik ini tidak hanya melumpuhkan kawasan Teluk, tetapi juga mengancam ketahanan energi di wilayah Asia.
Bank Dunia memprediksi adanya penurunan tajam pada output ekonomi negara-negara GCC yang diperkirakan menyusut rata-rata 4,3 persen pada tahun 2026. Angka ini merupakan pembalikan drastis dari proyeksi pertumbuhan positif yang sempat diperkirakan sebelumnya. Dampak paling fatal dirasakan oleh Qatar dan Kuwait yang sangat bergantung pada jalur pelayaran ini, dengan potensi kontraksi ekonomi mencapai angka 20,9 persen dan 14,6 persen.

Krisis ini menciptakan ketidakpastian besar bagi pasar energi Asia yang selama ini menjadi konsumen utama. Data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen minyak yang melintasi Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia, dengan Tiongkok dan India sebagai penyerap terbesar. Selain minyak, hampir 90 persen gas alam cair (LNG) yang melewati jalur tersebut juga mengalir ke Asia, yang mencakup sekitar 27 persen dari total kebutuhan impor LNG di kawasan tersebut.

Related Post
Kondisi ini diperparah dengan penghentian pengiriman gas oleh QatarEnergy akibat keadaan kahar, yang berdampak langsung pada negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh. Di sisi lain, harga energi global mulai merangkak naik, dengan minyak mentah Brent yang menyentuh angka 104,72 USD per barel.
Meskipun terdapat sedikit harapan pemulihan, risiko penurunan ekonomi tetap membayangi. Bagi negara-negara di Asia, situasi ini menjadi alarm keras mengenai bahaya ketergantungan pada satu jalur distribusi energi tunggal. Ke depan, para importir diprediksi akan mulai melakukan diversifikasi pasokan guna menghindari risiko serupa, sementara reputasi kawasan Teluk sebagai zona investasi aman masih memerlukan waktu panjang untuk pulih sepenuhnya.










Tinggalkan komentar