Waktu Ayah Anak Tak Terganti Teknologi

Waktu Ayah Anak Tak Terganti Teknologi

politicanews.id – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menegaskan bahwa interaksi berkualitas antara ayah dan anak adalah harta tak ternilai yang tak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi, apalagi kecerdasan buatan (AI). Momen kebersamaan ini, menurutnya, jauh melampaui kemampuan algoritma. Penegasan ini disampaikan Wihaji saat meninjau Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (Gamas) di SLB Negeri 2 Jakarta.

Wihaji menjelaskan, pemerintah tidak anti terhadap kemajuan teknologi. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk memfasilitasi kehidupan manusia, bukan justru mendominasi atau mengendalikan. Pasalnya, perangkat digital tidak memiliki hati dan empati layaknya manusia. Oleh karena itu, waktu berharga yang dihabiskan bersama anak tidak akan pernah bisa tergantikan oleh inovasi teknologi.

Waktu Ayah Anak Tak Terganti Teknologi
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Ia menambahkan, ikatan emosional antara ayah dan anak dapat dibangun melalui tindakan kecil namun bermakna, seperti mengantar anak ke sekolah. Momen sederhana ini akan menjadi memori berharga dan jejak tak terlupakan dalam perjalanan tumbuh kembang anak.

COLLABMEDIANET

Fakta memprihatinkan menunjukkan bahwa sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami kondisi "fatherless", yakni kehilangan figur ayah dalam pengasuhan. Melalui Gamas, pemerintah berupaya mengajak para ayah untuk meluangkan waktu mendampingi anak pada hari pertama sekolah. Tujuannya agar anak merasakan kehadiran psikologis sang ayah, yang merupakan fondasi penting bagi perkembangan mereka.

Wihaji juga menyoroti bahaya gawai yang bisa menjadi "keluarga baru" jika orang tua absen. Ia mengingatkan, jika orang tua tidak hadir secara fisik maupun emosional, telepon genggam akan mengambil alih peran tersebut. Anak-anak kini menghabiskan rata-rata 8 hingga 10 jam sehari dengan gawai, sebuah durasi yang berpotensi mengurangi kualitas pengasuhan dalam keluarga.

Semangat Gamas ini sejalan dengan program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar). Kedua inisiatif ini bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, mengingat banyak ayah di Indonesia yang terlalu fokus pada urusan ekonomi dan minim informasi tentang progres pendidikan anak. Untuk itu, Mendukbangga/Kepala BKKBN telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 17 tentang Gemar dan Gamas, yang terus diterapkan secara berkelanjutan di seluruh sekolah di Indonesia.

Dukungan kuat datang dari Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Rini Widyantini. Ia menyambut baik SE tersebut dan meminta instansi pemerintah memberikan kelonggaran jam kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ingin mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah. Pengaturan fleksibilitas ini diharapkan memungkinkan ASN mendampingi anak tanpa mengorbankan kualitas kerja, produktivitas, maupun mutu layanan publik.

Rini menegaskan bahwa penerapan aturan kerja yang adaptif ini tidak boleh mengurangi kualitas pemerintahan dan pelayanan publik. Justru sebaliknya, kebijakan ini diharapkan membuat ASN bekerja lebih fokus, adaptif terhadap perkembangan, serta mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik. Imbauan ini tertuang dalam Surat Menteri PANRB Nomor B/257/M.KT.02/2026 yang diterbitkan pada Jumat (10/7), sebagai bentuk dukungan penguatan fondasi keluarga yang kokoh dan kontribusi keluarga bagi pegawai ASN.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar