Politica News – Washington diguncang pernyataan tegas Presiden AS Donald Trump pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News pada Senin (5/1), Trump menegaskan bahwa Venezuela tidak akan mengadakan pemilihan umum dalam waktu dekat, setidaknya 30 hari ke depan, sembari mengklaim kendali sementara Amerika atas negara tersebut, bahkan jika diperlukan dengan pengerahan pasukan AS.
"Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa mengadakan pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa memberikan suara," kata Trump, menjelaskan rasionalisasinya. Ia menekankan bahwa proses "pemulihan kesehatan negara itu" akan membutuhkan waktu yang signifikan sebelum proses demokrasi yang sah dapat berjalan. Pernyataan ini muncul hanya dua hari setelah operasi militer AS pada Sabtu (3/1) yang berhasil menahan Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores.

Trump juga mengklarifikasi bahwa AS tidak sedang "berperang" dengan Venezuela sebagai sebuah negara, melainkan dengan entitas yang ia sebut sebagai "orang-orang yang menjual narkoba," mereka "yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita," serta "pecandu narkoba dan lembaga kesehatan mental mereka." Pernyataan ini mengindikasikan fokus pada isu keamanan dan penegakan hukum lintas batas sebagai justifikasi intervensi.

Related Post
Dalam visi jangka panjangnya untuk Venezuela, Trump menyebut AS siap membantu mensubsidi upaya perusahaan minyak untuk membangun kembali infrastruktur energi negara tersebut. Proses ini diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 18 bulan, meskipun akan membutuhkan "sejumlah besar uang." Ia menambahkan bahwa biaya tersebut akan ditanggung oleh perusahaan minyak yang kemudian akan mendapatkan penggantian dari AS atau melalui pendapatan dari sektor energi Venezuela.
Ketika ditanya mengenai siapa yang pada akhirnya akan bertanggung jawab atas keterlibatan AS di Venezuela, Trump dengan lugas dan singkat menjawab, "Saya." Ia juga menyebut beberapa pejabat kunci AS yang akan membantu memandu misi ini, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller.
Di sisi lain, Nicolas Maduro sendiri mengaku tidak bersalah pada Senin (5/1) di pengadilan New York atas tuduhan federal, termasuk terorisme narkoba dan konspirasi impor kokain, bersikeras bahwa ia tetap pemimpin sah negaranya. Sementara itu, di Caracas, Wakil Presiden Delcy Rodriguez secara resmi dilantik pada hari yang sama sebagai presiden sementara pasca penangkapan Maduro.
Trump mengklaim Rodriguez telah bekerja sama dengan pejabat AS, namun membantah adanya kontak langsung antara sekutu AS dan pihak Amerika sebelum penangkapan Maduro. Ia mencatat bahwa Menlu Rubio "berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol" dan memiliki "hubungan yang sangat kuat." Keputusan mengenai apakah sanksi yang ada terhadap Rodriguez akan tetap berlaku atau dicabut akan segera dibuat.
Mengenai kemungkinan "kesepakatan" untuk menyingkirkan Maduro, Trump membenarkan bahwa banyak pihak menginginkan hal itu, namun AS memutuskan untuk melakukannya "dengan cara ini." Ia juga mengisyaratkan potensi operasi militer kedua di Venezuela jika Rodriguez berhenti bekerja sama dengan pejabat Amerika, meskipun ia mengatakan tidak mengharapkan hal itu terjadi. Namun, ia menekankan bahwa AS telah mengantisipasi skenario tersebut. "Kami siap melakukannya. Sebenarnya, kami mengantisipasinya," ujarnya.
Menanggapi pertanyaan tentang otorisasi kongres, Trump menegaskan tidak memerlukan persetujuan baru dari Kongres untuk operasi militer, baik yang telah berlangsung maupun yang mungkin terjadi di masa depan. "Kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Dan Kongres tahu apa yang kami lakukan selama ini," katanya, menepis keraguan akan legitimasi tindakan eksekutifnya.
Di balik retorika politik yang tegas dan klaim kedaulatan, situasi di Venezuela kini menjadi cerminan kompleksitas intervensi asing dan perjuangan internal. Nasib jutaan rakyat Venezuela, masa depan demokrasi mereka, dan stabilitas regional kini berada di persimpangan jalan, dengan bayang-bayang kekuatan global yang semakin nyata mengukir babak baru dalam sejarah Amerika Latin.










Tinggalkan komentar