Politica News – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali melihat adanya momentum istimewa dalam perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah yang berdekatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948. Ketua MUI Bali, Mahrusun Hadyono, menyampaikan bahwa momen ini adalah kesempatan emas untuk mempererat kembali tali persaudaraan dan kerukunan antar umat beragama di Pulau Dewata.
Menurut Mahrusun, perpaduan dua hari besar keagamaan ini adalah peristiwa langka yang patut disyukuri. Tahun 2026, Nyepi jatuh pada 19 Maret dan Idul Fitri pada 21 Maret, selisih hanya dua hari, bahkan satu hari menurut perhitungan beberapa organisasi Islam. "Ini adalah momen untuk menunjukkan harmonisasi masyarakat Bali yang telah lama dikenal toleran," ujarnya.

MUI Bali mengimbau seluruh masyarakat, khususnya umat Muslim, untuk menghormati dan mematuhi segala ketentuan terkait pelaksanaan Nyepi. Mengingat ibadah tarawih masih berlangsung menjelang Idul Fitri, MUI berharap umat Muslim dapat menyesuaikan diri dan menjaga kekhusyukan Hari Raya Nyepi.

Related Post
Mahrusun menambahkan, toleransi bukanlah hal baru bagi masyarakat Bali. Pengalaman serupa pernah terjadi di tahun 2004, ketika Nyepi dan Idul Fitri bertepatan pada hari yang sama. "Saat itu, berkat kearifan para tokoh agama dan masyarakat, kedua perayaan dapat berjalan dengan lancar dan khidmat," kenangnya.
MUI Bali berharap komunikasi yang baik antar tokoh agama dan masyarakat terus dipelihara, sehingga suasana kondusif dan khidmat dapat tercipta selama bulan Maret mendatang. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa Bali mampu merajut harmoni di tengah perbedaan, menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.










Tinggalkan komentar