Politica News – Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus bergulir, terutama terkait narasi yang menyebut program ini "memotong anggaran pendidikan". Namun, benarkah demikian? Analisis mendalam terhadap data APBN menunjukkan fakta yang berbeda.
Alih-alih mengalami penurunan, anggaran pendidikan justru mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2024, anggaran pendidikan tercatat sebesar Rp665 triliun, dan meningkat menjadi Rp724,3 triliun pada tahun 2025. Bahkan, proyeksi menunjukkan anggaran ini akan terus meningkat hingga mencapai Rp757,8 triliun pada tahun 2026. Artinya, terjadi pertumbuhan rata-rata sekitar 6,8 persen per tahun dalam kurun waktu 2024-2026. Jika MBG benar-benar memotong anggaran pendidikan, logika sederhananya adalah total anggaran pendidikan akan menyusut. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Kesejahteraan guru juga menjadi perhatian utama. Anggaran untuk kesejahteraan guru mengalami kenaikan yang signifikan, dari Rp175,7 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp211,4 triliun pada tahun 2026. Kenaikan gaji ASN, tunjangan ASN, dan tunjangan non-ASN menjadi bukti nyata komitmen pemerintah. Pertumbuhan anggaran kesejahteraan guru bahkan mencapai hampir 10 persen per tahun, melampaui pertumbuhan total anggaran pendidikan. Selain itu, pembangunan ratusan Sekolah Rakyat dan distribusi ribuan smart board ke sekolah-sekolah di pelosok juga menjadi bukti nyata investasi di sektor pendidikan. Data ini membantah asumsi bahwa MBG mengorbankan kepentingan guru atau sekolah.

Related Post
Dalam struktur APBN 2026, dari total Rp757,8 triliun untuk pendidikan, porsi terbesar tetap dialokasikan untuk gaji dan tenaga pendidik, yaitu sekitar Rp274,7 triliun (36,2 persen). Sementara itu, MBG berada di kisaran Rp223,6 triliun (29,5 persen). Bantuan pendidikan, seperti BOS, LPDP, dan dana abadi, tetap mendapatkan alokasi yang signifikan, yaitu Rp161,6 triliun (21,3 persen). Secara fiskal, tidak ada pemangkasan fungsi inti pendidikan.
Dalam konteks kebijakan publik, MBG dapat dikategorikan sebagai human capital intervention policy. Teori "Human Capital" yang digagas oleh Gary Becker menekankan bahwa investasi pada kesehatan dan pendidikan memiliki dampak jangka panjang terhadap produktivitas ekonomi. Gizi bukan sekadar isu kesejahteraan, melainkan fondasi penting bagi kapasitas kognitif. Negara tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang memadai agar dapat belajar secara optimal.
Penempatan MBG di pos pendidikan bukanlah manipulasi anggaran, melainkan konsisten dengan pendekatan kebijakan berbasis outcome. Keberhasilan MBG dapat diukur melalui indikator pendidikan, seperti kehadiran siswa, konsentrasi belajar, penurunan stunting, dan kualitas hasil belajar. Ini bukan konsumsi jangka pendek, melainkan investasi SDM untuk masa depan.










Tinggalkan komentar