politicanews.id – Kabar mengejutkan datang dari sektor pertambangan nasional. Meski data menunjukkan penurunan volume produksi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa langkah ini adalah strategi cerdas demi menjaga kelestarian kekayaan alam Indonesia. Penurunan output bukanlah indikasi masalah, melainkan upaya terencana untuk mencegah eksploitasi berlebihan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno menjelaskan, fokus pemerintah bukan sekadar mengejar angka produksi tinggi. "Memang secara volume kita turun, tetapi ini adalah bagian dari komitmen kita untuk tidak menghambur-hamburkan sumber daya alam yang kita miliki," ungkap Tri. Ia menambahkan, meskipun kuantitas menurun, nilai finansial dari komoditas tambang justru tetap stabil, bahkan cenderung meningkat berkat kenaikan harga pasar global.

Pernyataan ini muncul menyusul laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kontraksi 1,64 persen pada sektor pertambangan dan penggalian. Kontraksi tersebut sebagian besar disebabkan oleh kebijakan pembatasan kuota produksi yang diterapkan pemerintah. Namun, Tri menegaskan bahwa dari segi pendapatan, sektor ini tidak mengalami kerugian berarti.

Related Post
Secara spesifik, produksi tembaga juga mengalami tantangan. PT Freeport Indonesia, salah satu raksasa tambang di Tanah Air, mencatat penurunan signifikan setelah insiden tanah longsor di area tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) Mimika Papua Tengah pada 8 September 2025. Musibah tersebut sempat melumpuhkan operasional di lokasi tersebut.
Freeport Indonesia melaporkan bahwa pada semester pertama tahun 2026, kapasitas produksi GBC hanya mampu mencapai sekitar 50 persen dari kondisi normal. Namun, perusahaan optimis dapat meningkatkan kapasitas menjadi 65 persen pada semester kedua 2026. Target pemulihan penuh hingga 100 persen diperkirakan akan tercapai pada semester kedua tahun 2027, setelah mencapai 75 persen di semester pertama tahun yang sama. Langkah-langkah strategis ini menunjukkan komitmen pemerintah dan pelaku industri untuk menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.










Tinggalkan komentar