Politica News – Terlapor dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo, Kurnia Tri Royani, membuka tabir baru. Ia menyebut kasus ini sebagai arena pertarungan antara kekuatan besar dan suara lemah. Pernyataan ini dilontarkannya dalam program Interupsi di iNews, Kamis (24/7/2025), memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat politik.
Kurnia mengklaim telah mengantongi sejumlah bukti yang mengindikasikan adanya kejanggalan pada ijazah Jokowi. Ia mengutip pernyataan Menko Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, tentang sistem hukum yang kuat. Menurutnya, sistem hukum yang buruk dapat memaksa orang baik untuk berbuat buruk.

"Saya ingin mengatakan, Yusril Ihza Mahendra pernah mengatakan, dalam sistem hukum yang kuat, orang jahat itu akan dipaksa untuk menjadi orang baik. Sebaliknya, dalam sistem hukum yang buruk, orang baik akan menjadi orang yang buruk," ujar Kurnia.

Related Post
Lebih lanjut, Kurnia menegaskan bahwa kasus ijazah ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan pertarungan antara pihak yang memiliki kekuatan besar dan mereka yang berjuang dengan sumber daya terbatas. Pernyataan ini mengundang tanya, siapa sebenarnya "orang kuat" yang dimaksud oleh Kurnia? Apakah ini mengindikasikan adanya kekuatan politik besar yang bermain di balik kasus ini?
Kasus dugaan ijazah palsu Jokowi ini memang telah menjadi sorotan publik dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah pihak telah melaporkan Jokowi terkait dugaan ini, dan polisi pun telah melakukan penyelidikan. Namun, hingga saat ini, belum ada kesimpulan yang jelas mengenai keabsahan ijazah tersebut.










Tinggalkan komentar