Politica News – Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, menyatakan keyakinannya bahwa organisasi Developing Eight (D-8) memiliki potensi besar untuk bertransformasi di bawah kepemimpinan Indonesia pada periode 2026-2027. Optimisme ini didasarkan pada skala ekonomi, kredibilitas diplomatik, dan visi yang dimiliki Indonesia untuk memajukan organisasi tersebut.
Chaudhri menekankan pentingnya pembangunan bagi negara-negara anggota D-8. Ia melihat organisasi ini sebagai wadah strategis untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan antar anggotanya. "Kita perlu meningkatkan perdagangan intra-D-8," tegasnya dalam wawancara eksklusif dengan ANTARA di Jakarta.

Meskipun Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan D-8 mencapai sekitar 5 triliun dolar AS, perdagangan intra-D-8 masih tergolong rendah, yaitu sekitar 156 miliar dolar AS. Chaudhri mendorong D-8 untuk menetapkan target perdagangan yang terukur dan menyusun rencana aksi yang konkret untuk memperkuat integrasi ekonomi.

Related Post
Selain itu, Dubes Pakistan tersebut menyoroti pentingnya kerja sama di sektor-sektor krusial seperti ekonomi biru, transisi hijau, dan energi terbarukan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi anggota D-8 harus diiringi dengan integrasi yang lebih erat.
"Keterkaitan bisnis dan rantai pasokan terintegrasi sangat penting. Kita tidak hanya perlu meningkatkan perdagangan, tetapi juga kualitasnya," imbuhnya. Ia juga menekankan perlunya pemanfaatan investasi secara strategis untuk mendorong penggunaan modal yang lebih efektif.
Indonesia akan memegang keketuaan D-8 pada periode 2026-2027 dengan mengusung tema "Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama." D-8 sendiri merupakan organisasi kerja sama ekonomi yang beranggotakan Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan menjadi anggota terbaru yang bergabung pada Desember 2024.
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Pakistan telah terjalin sejak April 1950. Kedua negara memiliki sejarah panjang dalam kerja sama internasional, termasuk sebagai penggagas Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 bersama India, Sri Lanka, dan Myanmar.










Tinggalkan komentar