politicanews.id – Dunia komunikasi politik kini memiliki panduan baru yang revolusioner. Sebuah buku berjudul "JURU BICARA: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" resmi diluncurkan, menawarkan bekal esensial bagi para komunikator agar pesan mereka tidak hanya tersampaikan, namun juga mampu menciptakan dampak signifikan. Karya kolaborasi antara Benny Siga Butarbutar, Direktur Utama LKBN ANTARA yang juga praktisi komunikasi ulung, dengan Profesor Marlinda Irwanti Poernomo, seorang akademisi dan praktisi komunikasi massa berpengalaman, ini hadir menjawab tantangan kompleks di era disrupsi digital.
Benny Siga Butarbutar mengungkapkan bahwa selama ini, literatur yang secara khusus membahas peran juru bicara, lengkap dengan panduan praktis atau standar operasional prosedur (SOP), masih sangat minim. Oleh karena itu, buku ini merupakan upaya konkret untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, memungkinkan siapa saja untuk menguasai seni menjadi juru bicara yang efektif dan berpengaruh. Ia menekankan bahwa seorang komunikator ideal harus memenuhi tiga aspek krusial: kemampuan menjelaskan, meyakinkan, dan akhirnya memengaruhi audiens.

Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan bahwa peran juru bicara di Indonesia belum sepenuhnya mencapai tahap memengaruhi. Banyak yang masih terbatas pada fungsi menjelaskan semata. Berangkat dari keprihatinan inilah, Benny bersama tim dan Profesor Marlinda tergerak untuk menyusun kerangka panduan yang kemudian berkembang menjadi sebuah buku komprehensif. Pengalaman pribadi Benny yang kaya, mulai dari seorang jurnalis, berkarier di korporasi besar seperti maskapai penerbangan dan logistik pangan, hingga terlibat dalam badan komunikasi pemerintahan, turut menjadi inti pembelajaran berharga dalam buku ini.

Related Post
Profesor Marlinda Irwanti Poernomo menambahkan bahwa buku ini memberikan perspektif segar, khususnya mengenai peran vital juru bicara di lembaga-lembaga pemerintahan. Ia membocorkan salah satu pesan kunci dalam buku, yaitu bahwa juru bicara harus mampu bertindak sebagai Chief Reassurance Officer. Artinya, bukan sekadar menutupi atau meniadakan masalah, melainkan membangun kepercayaan publik bahwa setiap persoalan yang ada sedang ditangani secara serius dan tepat oleh pihak terkait, baik pemerintah maupun swasta.
Peluncuran buku yang berlangsung di ANTARA Heritage Center Jakarta Pusat ini mendapat sambutan hangat. Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, dalam pidato kuncinya, memuji relevansi buku ini. Menurutnya, karya ini memberikan gambaran jelas mengenai struktur dan strategi komunikasi pemerintahan agar dapat berjalan optimal. Ia berharap buku ini menjadi referensi penting bagi para praktisi dan pembelajar komunikasi di seluruh penjuru negeri, mengingat keterkaitannya yang kuat dengan kondisi aktual di lapangan.








Tinggalkan komentar