Bima Darurat Kekeringan 125 Hari Tanpa Hujan

Bima Darurat Kekeringan 125 Hari Tanpa Hujan

politicanews.id – Nusa Tenggara Barat kini menghadapi ancaman serius. Kabupaten Bima telah ditetapkan sebagai episentrum kekeringan ekstrem terparah di wilayah tersebut setelah mencatat 125 hari tanpa hujan atau lebih dari empat bulan berturut-turut. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam akan krisis air bersih yang semakin nyata.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas menyoroti bahwa dua kecamatan di Bima, yakni Belo dan Bolo, menjadi wilayah dengan periode kering terpanjang. Ia mendesak masyarakat untuk segera mengambil langkah bijak dalam penggunaan air demi mencegah kelangkaan yang lebih parah. Situasi ini bukan sekadar kemarau biasa, melainkan ancaman kekeringan ekstrem yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.

Bima Darurat Kekeringan 125 Hari Tanpa Hujan
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Kondisi kering yang melanda NTB ini disebabkan oleh curah hujan yang sangat minim, berkisar antara 0 hingga 50 milimeter per dasarian. Data terbaru dari BMKG menunjukkan bahwa pada pertengahan September, curah hujan tertinggi hanya mencapai 9 milimeter di Pos Hujan Suwela Lombok Timur, jauh di bawah normal. Sebagian besar wilayah NTB mengalami sifat hujan di bawah rata-rata, dengan hanya sedikit area yang mencatat curah hujan di atas normal.

COLLABMEDIANET

Prospek hujan dalam waktu dekat pun tidak menjanjikan. BMKG memprediksi peluang turunnya hujan di sebagian besar NTB masih sangat rendah, di bawah 10 persen, hingga akhir September. Fenomena El Nino yang sangat kuat, dengan Indeks Nino3.4 mencapai +2,6 derajat Celcius, diperkirakan akan bertahan hingga awal tahun 2027, memperparah kondisi kemarau panjang ini.

Sejumlah wilayah di NTB kini berstatus awas kekeringan meteorologis. Ini meliputi beberapa kecamatan di Lombok Barat seperti Labuapi dan Lembar, serta Jerowaru, Labuhan Haji, Pringgasela, Sakra Barat, Sembalun, Sukamulia di Lombok Timur. Di Lombok Utara, Gangga, Kayangan, Pemenang, dan Tanjung juga masuk daftar. Kondisi serupa terjadi di Sumbawa Barat (Jereweh, Poto Tano, Taliwang), Sumbawa (Batulanteh, Labuhan Badas, Lape, Moyo Utara, Moyohilir, Moyohulu, Rhee, Sumbawa, Unter Iwes), dan Dompu (Dompu, Kilo, Manggalewa, Pajo, Woja).

Tak hanya itu, Kabupaten Bima sendiri memiliki delapan kecamatan yang berstatus awas, yaitu Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Palibelo, Sape, dan Soromandi. Bahkan, Kecamatan Raba di Kota Bima juga tidak luput dari ancaman kekeringan meteorologis level awas. Cakra menegaskan bahwa seluruh NTB saat ini berada dalam puncak musim kemarau yang diperkuat oleh El Nino. Ia mengingatkan masyarakat untuk ekstra waspada terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, maupun pemukiman dengan tidak sembarangan membakar sampah atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan. Musim hujan di NTB diperkirakan akan mundur hingga Desember mendatang, menambah panjang daftar kekhawatiran.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar