politicanews.id – Laporan terbaru dari Sun Life Asia mengungkap fakta mengejutkan: ketahanan finansial masyarakat di benua kuning kian tergerus akibat tekanan biaya hidup yang melonjak. Indeks Ketahanan Finansial ketiga Sun Life Asia menunjukkan bahwa inflasi tinggi telah memukul keras anggaran rumah tangga, membuat banyak keluarga kesulitan menopang kebutuhan sehari-hari dan kurang siap menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Pukulan inflasi terasa nyata di setiap sudut rumah tangga. Survei menunjukkan delapan dari sepuluh responden, atau sekitar 83%, mengaku semakin sulit memenuhi pengeluaran bulanan mereka. Gejolak geopolitik dan ekonomi makro, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang memicu guncangan harga minyak, memperparah kondisi ini. Kenaikan harga bahan makanan, biaya utilitas, bahan bakar transportasi, bahan bakar masak, hingga layanan kesehatan menjadi beban paling mendesak, memengaruhi lebih dari 90% penduduk Asia. Hampir separuh responden (48%) bahkan menyebut kenaikan biaya sebagai penghalang terbesar dalam mengelola keuangan pribadi.

Kondisi ini memaksa keluarga di Asia mengambil langkah darurat, seringkali dengan mengorbankan keamanan finansial jangka panjang. Persentase rumah tangga dengan ketahanan finansial yang kuat anjlok dari 32% pada tahun 2025 menjadi hanya 25% tahun ini. Lebih memprihatinkan lagi, hanya 13% yang benar-benar merasa aman dengan kondisi keuangan mereka, turun drastis dari 19% tahun sebelumnya. Untuk bertahan, banyak yang menarik tabungan (satu dari empat responden), mengurangi atau bahkan melewatkan pengeluaran penting (27%), dan menunda iuran pensiun (10%).

Related Post
Prioritas keuangan pun bergeser. Mayoritas responden (53%) kini lebih fokus pada pengelolaan pengeluaran harian selama 12 bulan ke depan, menomorduakan tabungan, investasi, atau perencanaan jangka panjang. Akibatnya, lebih dari separuh (55%) tidak memiliki rencana keuangan atau hanya merencanakan untuk satu tahun ke depan. Kondisi ini menempatkan mereka dalam posisi rentan; 61% responden mengaku tidak akan mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa bantuan finansial eksternal jika mereka kehilangan pekerjaan atau jatuh sakit.
Namun, di tengah badai ekonomi ini, literasi keuangan muncul sebagai pembeda utama. Mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan finansial yang lebih baik cenderung jauh lebih percaya diri terhadap situasi keuangan mereka, tetap optimis menatap masa depan, dan jarang mengalami stres, bahkan di tengah tantangan. Perbedaan ini signifikan, mencapai hingga 48 poin persentase dalam kepercayaan diri dan 43 poin dalam optimisme. Rumah tangga dengan literasi keuangan tinggi juga lebih cenderung memiliki perencanaan masa depan dan mempertahankan kebiasaan finansial jangka panjang.
Akses terhadap informasi keuangan memang semakin mudah, termasuk penggunaan alat kecerdasan buatan generatif (GenAI) dalam pengambilan keputusan finansial. Sekitar 60% responden kini rutin menggunakan GenAI untuk saran keuangan, naik tajam dari 18% pada tahun 2025. Meski demikian, akses informasi yang melimpah belum tentu menghasilkan tingkat kepercayaan diri dan kesiapan finansial yang lebih baik secara merata. Literasi keuangan yang kuat tetap menjadi kunci utama dalam cara rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi yang kompleks.
David Broom, Chief Client and Distribution Officer di Sun Life Asia, mengingatkan bahwa ketika keputusan keuangan lebih bersifat jangka pendek, masyarakat berisiko kehilangan fokus pada hasil jangka panjang. Ia menekankan pentingnya bimbingan profesional. "Meskipun akses terhadap informasi dan perangkat semakin mudah, mengambil keputusan keuangan yang kompleks tetap membutuhkan bimbingan. Di sinilah peran penting nasihat keuangan profesional dalam membantu masyarakat mengubah pilihan jangka pendek menjadi rencana jangka panjang," pungkas Broom. Laporan lengkapnya tersedia untuk publik.










Tinggalkan komentar