politicanews.id – Fenomena mengkhawatirkan tengah menyelimuti generasi muda di kawasan perkotaan Sulawesi Tenggara saat ini. Banyak anak yang kini tumbuh tanpa kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa ibu mereka sendiri. Meski mampu memahami percakapan, mereka justru gagap saat harus berbicara menggunakan bahasa daerah.
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, memberikan peringatan keras mengenai kondisi ini. Menurutnya, hilangnya kemampuan berbahasa daerah merupakan sebuah kekurangan besar yang dapat mengikis jati diri generasi mendatang. Ia menekankan bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jiwa dan identitas mendalam bagi setiap keluarga.

Hugua mengajak seluruh orang tua untuk mengambil peran aktif sejak anak lahir. Ia meminta para ayah dan ibu untuk membiasakan penggunaan bahasa daerah di lingkungan rumah agar nilai-nilai budaya tetap mengalir dalam darah anak-anak mereka. Tanpa pembiasaan di rumah, identitas budaya tersebut perlahan akan lenyap ditelan zaman.

Related Post
Selain peran keluarga, upaya penyelamatan budaya ini juga memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Pengembangan kurikulum muatan lokal serta penyediaan literasi berbasis budaya setempat menjadi langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Bahasa Sultra Dewi Pridayanti mengusung semangat Trigatra Bangun Bahasa sebagai solusi. Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penggunaan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu, bahasa daerah sebagai penjaga identitas, dan bahasa asing sebagai sarana menembus dunia internasional. Melalui rangkaian peringatan Bulan Bahasa dan Sastra, upaya penguatan akar budaya ini terus digalakkan demi menjaga peradaban bangsa.










Tinggalkan komentar