politicanews.id – Dunia pendidikan tengah menghadapi revolusi senyap yang mengubah fundamental cara kita belajar dan memahami informasi. Jika dua dekade silam seorang siswa diminta menjelaskan efek krisis iklim global, ia mungkin akan menyelami buku-buku tebal, menelaah lembaran demi lembaran, lalu merangkumnya dalam esai panjang. Namun, kini skenarionya jauh berbeda.
Pelajar masa kini justru lebih dulu menjelajahi video daring, menyerap infografis dari media sosial, menganalisis visualisasi data cuaca, bahkan berdialog dengan kecerdasan buatan untuk mendapatkan jawaban. Mereka kemudian dengan cekatan membandingkan dan menyintesis data dari beragam sumber tersebut sebelum merangkai respons mereka. Ini bukan sekadar membaca teks, melainkan membaca gambar, grafik, animasi, video, dan berinteraksi dengan sistem AI yang mampu menghasilkan narasi, citra, atau penjelasan secara otomatis.

Problem utama pelajar kini bukan lagi kelangkaan informasi, melainkan kecakapan menilai validitas, keandalan, serta relevansi data yang mereka peroleh, termasuk yang dihasilkan oleh AI. Pergeseran sederhana ini sesungguhnya merefleksikan transformasi besar dalam ranah literasi. Selama ini, pemahaman literasi secara tradisional selalu melekat pada kapabilitas membaca dan menulis aksara. Perspektif itu tak sepenuhnya keliru, mengingat membaca dan menulis adalah pilar fundamental edukasi.

Related Post
Akan tetapi, di era digital, definisi tersebut tak lagi memadai. Cara manusia memperoleh, mengolah, dan menyampaikan informasi telah berubah secara mendasar. Maka, paradigma literasi wajib diperkaya, beranjak dari sekadar teks menuju ranah multimodal.
Istilah multimodal merujuk pada pemanfaatan beragam medium atau kanal komunikasi demi merangkai sebuah makna. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jarang berhadapan dengan teks semata. Sebuah laporan di platform berita digital lazimnya mengintegrasikan narasi tertulis, gambar, infografis, klip video, serta pranala ke referensi lain. Sebuah presentasi menggabungkan bahasa lisan, teks, citra, dan animasi. Bahkan, percakapan di media sosial sering kali mengombinasikan kata-kata dengan emoji, foto, atau video pendek.
Dalam konteks demikian, kecakapan membaca tak lagi cukup diartikan sebagai kebolehan memahami deretan kata-kata. Seseorang juga harus sanggup mencerna pesan yang tersampaikan lewat citra, bagan, grafik, rekaman visual, dan aneka format non-teks lainnya. Inilah tantangan dan peluang baru bagi pendidikan di Indonesia.










Tinggalkan komentar