politicanews.id – Mata uang Garuda menunjukkan pergerakan mengejutkan di awal pekan. Sempat menguat signifikan pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah diproyeksikan akan menghadapi tekanan pelemahan sepanjang hari. Para pelaku pasar kini menanti data ekonomi krusial dari Amerika Serikat yang berpotensi mengguncang pasar keuangan global.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengungkapkan bahwa rupiah berpotensi melemah dengan rentang pergerakan sempit di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 terhadap dolar AS. Prediksi ini didasari oleh antisipasi rilis data ekonomi penting dari Negeri Paman Sam, terutama data Non-Farm Payroll (NFP) yang sangat dinantikan.

Angka NFP Amerika Serikat diperkirakan menyentuh 114 ribu, sebuah penurunan signifikan dari 172 ribu pada bulan sebelumnya. Penurunan ini bisa memicu volatilitas di pasar keuangan. Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia turut menjadi sorotan utama. Diskusi dalam Forum Bank Sentral Eropa (ECB) mengindikasikan bahwa era suku bunga tinggi global kemungkinan akan bertahan lebih lama dari perkiraan, menambah ketidakpastian bagi mata uang emerging market seperti rupiah.

Related Post
Dari dalam negeri, investor masih menanti rilis data penting seperti neraca perdagangan dan inflasi yang dijadwalkan pada Rabu 1 Agustus. Rully menambahkan, neraca perdagangan Indonesia masih diproyeksikan surplus, dengan estimasi mencapai 1,18 miliar dolar AS. Namun, sentimen positif dari surplus perdagangan ini bisa tertahan oleh tekanan eksternal.
Menariknya, di awal sesi perdagangan pagi ini, kurs rupiah justru menunjukkan kekuatan. Mata uang domestik ini bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen, mencapai level Rp17.859 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.922 per dolar AS. Pergerakan awal yang menguat ini menjadi kontras dengan proyeksi pelemahan yang diutarakan analis, menciptakan dinamika menarik di pasar valuta asing.








Tinggalkan komentar