politicanews.id – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Kepala BKKBN Wihaji menggugah kesadaran para ayah di seluruh Indonesia. Ia menekankan betapa krusialnya peran ayah dalam mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak. Fenomena ‘fatherless’ atau ketiadaan sosok ayah menjadi sorotan utama yang berpotensi mengancam ketahanan keluarga di masa depan.
Dalam sebuah acara bertajuk Gerakan Ayah Mengambil Rapor Gemar di MAN 1 Yogyakarta Wihaji mengingatkan bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan dukungan finansial. Lebih dari itu mereka mendambakan sentuhan psikologis dan interaksi mendalam dari ayahnya. Jika peran ini tidak terpenuhi gawai pintar siap mengambil alih ruang komunikasi tersebut.

Data yang dimiliki BKKBN cukup mencengangkan seperempat anak di Indonesia mengalami kondisi ‘fatherless’. Ini bukan sekadar ketiadaan fisik melainkan minimnya keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan sehari-hari anak. Padahal keluarga adalah unit terkecil sekaligus fondasi utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Perbaikan harus dimulai dari sana.

Related Post
Wihaji juga menyoroti tantangan era digital. Anak-anak kini menghabiskan banyak waktu di depan layar ponsel. Ia berpesan agar orang tua khususnya ayah tidak membiarkan teknologi menjadi ‘keluarga baru’ yang tanpa hati membentuk nilai-nilai pada anak. Komunikasi intensif dan pendampingan keluarga menjadi benteng utama.
Lingkungan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan semata. Lebih jauh sekolah juga berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai luhur. Oleh karena itu Wihaji menitipkan pesan agar para orang tua terutama ayah menyisihkan waktu untuk berbicara dan membangun kedekatan emosional dengan anak-anak mereka.
Agung Baskoro salah satu orang tua siswa yang hadir menyambut baik program Gemar. Ia mengakui bahwa kesibukan pekerjaan seringkali membuat para ayah kurang terlibat dalam urusan pendidikan anak yang selama ini cenderung diserahkan kepada ibu. Padahal kehadiran ayah dalam setiap tahapan tumbuh kembang anak sangatlah penting.
Menurut Agung keterlibatan ayah bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun bermakna. Mengantar anak ke sekolah atau mengambil rapor secara langsung adalah bentuk dukungan yang kuat. Ini bukan hanya sekadar tugas melainkan investasi emosional yang membangun ikatan tak terpisahkan antara ayah dan anak.










Tinggalkan komentar