politicanews.id – Kabupaten Kuningan kini tengah berpacu dengan waktu demi mempertahankan predikat sebagai lumbung beras Jawa Barat. Hingga September 2026, total produksi padi di wilayah ini telah menyentuh angka 343.069 ton. Meski demikian, pemerintah daerah masih harus bekerja ekstra keras untuk mengejar kekurangan sekitar 53.319 ton agar bisa menyamai rekor capaian tahun lalu yang mencapai 396.388 ton.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kuningan Wahyu Hidayah mengungkapkan bahwa sisa waktu tiga bulan hingga penghujung tahun menjadi momentum krusial. Meski sempat terkendala musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya, peluang untuk menutup kekurangan luas tanam sebesar 2.100 hektare masih terbuka lebar. Tantangan utama yang dihadapi petani saat ini adalah ketersediaan air yang membatasi frekuensi tanam di beberapa wilayah.

Kondisi cuaca ekstrem memaksa sebagian petani yang biasanya bisa menanam tiga kali setahun kini hanya mampu melakukan dua setengah kali musim tanam. Selain faktor alam, kendala teknis seperti keterbatasan alat mesin pertanian juga menjadi hambatan nyata di lapangan. Para petani harus mengantre untuk menggunakan traktor guna mengolah lahan mereka.

Related Post
Guna mengatasi persoalan tersebut, Diskatan Kuningan mengajukan kebutuhan mendesak berupa bantuan traktor roda dua yang lebih fleksibel untuk karakteristik lahan setempat serta mesin perontok padi atau power thresher. Langkah ini dinilai penting mengingat jumlah tenaga kerja di sektor pertanian terus mengalami penyusutan.
Di sisi lain, upaya penguatan sektor pangan terus digenjot melalui program Optimalisasi Lahan yang mencakup ribuan hektare lahan pertanian. Pemerintah daerah optimis bahwa dengan percepatan penanaman di sisa tahun ini, Kuningan tetap mampu mempertahankan status surplus berasnya yang mencapai ratusan ribu ton demi menjaga ketahanan pangan daerah.










Tinggalkan komentar