politicanews.id – Harapan tinggi tim nasional esports Indonesia untuk meraih medali emas di ajang eFootball internasional yang berlangsung di Jepang harus kandas secara mengejutkan. Pelatih Adyatma Priady tak bisa menyembunyikan kekecewaan setelah anak asuhnya gagal menembus babak semifinal, sebuah hasil yang jauh di luar ekspektasi awal.
Perjalanan skuad Garuda di turnamen ini sebenarnya dimulai dengan gemilang. Rizky Faidan dan Radinka Wiratama tampil perkasa, menyapu bersih seluruh pertandingan di hari pertama dan keluar sebagai juara grup. Kepercayaan diri tim melambung tinggi, siap menghadapi tantangan berikutnya. "Di hari pertama kita bisa sapu bersih untuk menjadi juara grup. Terus yang kedua, di hari kedua pun kita sebenarnya sudah sangat pede sekali dengan perform yang kemarin di hari pertama," ungkap Adyatma.

Namun, momentum positif itu seolah sirna di hari kedua. Langkah Faidan dan Radinka terhenti secara dramatis. Adyatma menyoroti beberapa faktor yang mungkin memengaruhi performa tim. Salah satunya adalah keluhan pemain mengenai kondisi jaringan yang dirasa kurang stabil dibandingkan hari pertama, meskipun para atlet memilih untuk tetap melanjutkan pertandingan tanpa menjadikannya alasan.

Related Post
Selain itu, sang pelatih juga mengungkapkan adanya aturan ketat yang melarangnya mendampingi pemain selama pertandingan berlangsung. Ia hanya diizinkan hadir hingga proses pengujian perangkat selesai, meninggalkan para atlet bertarung sendiri di arena. "Coach itu cuma bisa sampai di test device. Setelah test device dikasih waktu lima menit, kita disuruh keluar dan kita nggak tahu apa yang akan terjadi di dalam," jelas Adyatma.
Dalam laga krusial melawan Uzbekistan, Rizky Faidan sebenarnya menunjukkan dominasi. Statistik mencatat Faidan melepaskan enam tembakan dengan lima di antaranya mengarah tepat ke gawang, jauh lebih banyak dari lawan yang hanya tiga tembakan dengan satu tepat sasaran. Faidan bahkan sempat unggul 1-0 di babak pertama. Sayangnya, serangkaian peluang emas, termasuk dua tembakan yang membentur tiang gawang, gagal dikonversi menjadi gol tambahan. Uzbekistan kemudian berhasil menyamakan kedudukan di babak kedua, memaksa pertandingan berakhir imbang.
Situasi serupa terjadi di nomor mobile. Radinka Wiratama sempat memimpin cepat 1-0. Namun, Uzbekistan berhasil membalikkan keadaan menjadi 1-3 di babak pertama. Meski Indonesia menambah satu gol di babak kedua, keterbatasan waktu pertandingan mobile yang hanya enam menit, ditambah strategi bertahan lawan, membuat upaya mengejar ketertinggalan menjadi sangat sulit. Adyatma menduga hasil pertandingan Faidan sebelumnya juga turut membebani Radinka. "Kalau yang saya lihat memang kondisinya si Radinka mungkin melihat hasil dari pertandingan Faidan. Jadi dia mungkin agak sedikit tertekan dan terbeban. Kalau misalnya saya ada di sana mungkin saya bisa menenangkan," ujarnya.
Mewakili seluruh tim dan kedua atlet, Adyatma Priady menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia atas hasil yang belum sesuai target. "Saya mewakili tim, mewakili atlet Rizky Faidan dan Radinka. Saya minta maaf sebesar-besarnya kalau memang hasilnya di luar ekspektasi kita. Apalagi kita ditargetkan emas," ucapnya. Ia berharap pengalaman berharga ini menjadi pelajaran penting dan bahan evaluasi bagi timnas esports Indonesia agar dapat tampil lebih baik serta mengharumkan nama bangsa di kancah internasional pada kompetisi mendatang.










Tinggalkan komentar