Misteri Jurnalis Hilang SAR Perluas Hingga Samudra

Misteri Jurnalis Hilang SAR Perluas Hingga Samudra

politicanews.id – Operasi pencarian rombongan jurnalis dan kru kapal cepat KM Arupadatu I yang tak terlacak di Selat Sunda kini memasuki fase paling masif. Memasuki hari ke-10, upaya SAR diperluas secara dramatis, membentang hingga 8.509 mil laut persegi, peningkatan signifikan dari cakupan hari sebelumnya yang hanya 3.439 mil laut persegi.

Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Rizky Dwianto, dari Posko Utama SAR Gabungan di Pantai Carita, Pandeglang, Kamis, menjelaskan perluasan area penyisiran ini merupakan bagian dari perpanjangan operasi SAR hari ketiga. Wilayah pencarian dibagi menjadi sepuluh sektor utama, dengan harapan dapat memperbesar peluang penemuan. "Area diperluas hingga 8.509 mil laut persegi, mengerahkan total 24 unit kapal gabungan di sepuluh sektor tersebut," ungkap Rizky.

Misteri Jurnalis Hilang SAR Perluas Hingga Samudra
Gambar Istimewa : cdn.antaranews.com

Kekuatan maritim yang dikerahkan dalam misi ini sungguh luar biasa, melibatkan 523 personel SAR gabungan. Armada utama terdiri dari empat KN SAR milik Basarnas (Banten, Lampung, Jakarta, Bengkulu) dan tiga unit RIB. Dari TNI AL, lima KRI, dua KAL, serta satu RBB turut serta. Delapan unit kapal Polairud dan satu unit kapal patroli KPLP juga bahu-membahu dalam operasi ini.

COLLABMEDIANET

Menurut peta rencana operasi Basarnas, sektor pencarian paling luas dan menantang adalah Sektor C, yang meliputi 3.380 mil laut persegi. Di sinilah KRI Leuser dan KRI Dewa Kembar berpacu dengan waktu, menyisir perairan Samudra Hindia di barat Pulau Belimbing hingga selatan Pulau Enggano, Bengkulu.

Sementara itu, Sektor A seluas 1.156 mil laut persegi diawasi oleh KN 213 Bengkulu di perairan barat Sumatera. Sektor B (494 mil laut) menjadi tanggung jawab RIB 020 yang memutari Pulau Enggano. Kemudian, Sektor D (637 mil laut) disisir oleh KRI Teluk Gilimanuk dan KN SAR Antasena di barat laut Pulau Panaitan, hingga mencapai gerbang Samudra Hindia arah barat laut.

Untuk perairan Lampung, Sektor E (542 mil laut) disisir KRI Kerambit di selatan Teluk Semangka. Sektor F (484 mil laut) menjadi area KN SAR Basudewa yang memutari Pulau Tabuan. Sedangkan Sektor G (316 mil laut) dikawal oleh RIB 02 Lampung, KRI Lepu, serta KAL Pahawang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sebesi.

Di kawasan Banten, Sektor H (589 mil laut) disisir KN SAR Tetuka bersama lima kapal lain di selatan Anak Krakatau hingga Pulau Panaitan. Sektor I (397 mil laut) menyisir pesisir Anyer, Carita, hingga Sumur. Terakhir, Sektor J (114 mil laut) mengawal perairan Anyer hingga Merak.

Selain penyisiran laut, tim SAR gabungan juga berkoordinasi intensif dengan VTS dan pemangku kepentingan terkait. Mereka terus mengencangkan pemantauan e-broadcast kepada seluruh kapal yang melintasi perairan Selat Sunda, berharap ada informasi krusial yang masuk.

Rizky menambahkan, operasi ini juga sangat bergantung pada kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau dan cuaca yang fluktuatif. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan perkiraan cuaca berawan dengan tinggi gelombang antara 0,5 hingga 3,5 meter serta angin 10-20 knot. Sementara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga, diiringi aktivitas gempa vulkanik dangkal.

"Seluruh area yang kami bagi dalam sepuluh sektor itu masuk dalam wilayah yang memang diperkirakan menjadi pergeseran kapal ataupun orang yang kami cari. Kami berharap cuaca akan mendukung upaya ini," pungkas Rizky.

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar