politicanews.id – Sebuah terobosan luar biasa di Desa Sepatin Kutai Kartanegara Kalimantan Timur berhasil mengubah pandangan petambak terhadap rehabilitasi mangrove kini mereka bersemangat melestarikan lingkungan sambil tetap meraup untung besar. Pola tambak ramah lingkungan silvofishery menjadi kunci utama peningkatan minat ini.
Dulu banyak petambak di wilayah pesisir enggan berpartisipasi dalam program rehabilitasi mangrove mereka khawatir penanaman pohon akan mengotori tambak dan mengganggu hasil budidaya ikan atau udang. Kekhawatiran ini menjadi penghalang besar bagi upaya pelestarian ekosistem vital tersebut.

Namun program Mangroves for Coastal Resilience M4CR datang membawa angin segar dengan konsep silvofishery sebuah perpaduan cerdas antara budidaya tambak dan penanaman mangrove. Ketua Kelompok Tani Hutan Peduli Hutan Mangrove Suwardi melihat peningkatan minat signifikan dari masyarakat.

Related Post
Pendekatan inovatif ini memungkinkan fungsi budidaya tetap berjalan optimal sementara pelestarian lingkungan juga terlaksana sempurna. Petambak tidak lagi takut tambak mereka akan rusak atau kotor justru mereka melihat potensi keuntungan ganda dari ekosistem yang sehat dan produktif.
Selain kekhawatiran teknis ada juga ketakutan lahan mereka akan diambil alih pemerintah jika ikut program rehabilitasi. Suwardi menjelaskan Kementerian Kehutanan telah memberikan jaminan langsung bahwa tidak ada tambak yang akan direbut paksa hal ini membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Kelompok Tani Hutan Peduli Hutan Mangrove telah menerapkan pola silvofishery di lahan seluas 31 hektare pada tahun 2025 dan 29 hektare pada tahun 2026. Data menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove mencapai 61 persen pada penanaman tahun 2025 sebuah angka yang menjanjikan.
Model partisipatif ini terbukti efektif meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian mangrove di pesisir Kalimantan Timur sebuah langkah maju menuju keberlanjutan lingkungan dan ekonomi.








Tinggalkan komentar