politicanews.id – Sektor kehutanan di Indonesia menyatakan kesiapan penuh untuk mengambil peran sentral dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan. Langkah ini tidak hanya bertujuan merevitalisasi benteng alami pesisir dari abrasi, namun juga membuka gerbang kemakmuran bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya di wilayah pantai.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia APHI Soewarso menyambut baik sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam upaya konservasi mangrove. Menurutnya luasnya hamparan hutan mangrove di kawasan hutan menuntut kebijakan kehutanan yang kuat guna memastikan perlindungan rehabilitasi dan pemanfaatannya berjalan lestari. Soewarso menegaskan mangrove adalah aset strategis bangsa. Ekosistem ini tidak sekadar penyimpan karbon dan pelindung pantai namun juga menjadi sumber kehidupan serta ekonomi bagi komunitas lokal.

Keberhasilan program rehabilitasi tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam atau luasan lahan semata. Indikator sesungguhnya mencakup tingkat kelangsungan hidup tanaman pulihnya fungsi ekosistem penguatan kelembagaan hingga peningkatan pendapatan masyarakat pesisir. Dunia usaha kehutanan siap berkontribusi nyata melalui pembibitan penanaman pemeliharaan pemantauan pengembangan teknologi pemberdayaan masyarakat serta inovasi produk non-kayu dari mangrove. Komitmen ini harus melampaui penanaman simbolis menuju pemeliharaan berkelanjutan pengukuran hasil pendampingan masyarakat dan jaminan manfaat ekologis serta ekonomis jangka panjang.

Related Post
Di sisi lain Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki memaparkan capaian signifikan Kementerian Kehutanan dalam pemulihan ekosistem mangrove. Hingga akhir tahun 2025 Kemenhut bersama berbagai mitra berhasil merehabilitasi lahan seluas 91.678 hektare. Target ambisius untuk tahun 2026 adalah rehabilitasi lebih dari 17.000 hektare di berbagai penjuru nusantara melalui kolaborasi erat dengan mitra pembangunan internasional.
Program rehabilitasi dan perlindungan kawasan hutan mangrove terbukti memberikan dampak positif ganda. Selain memperbaiki lingkungan inisiatif ini juga menciptakan dampak sosial ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir. Data menunjukkan program tersebut telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 64.000 individu memicu lahirnya 63 Peraturan Desa terkait perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove serta menyalurkan hibah usaha masyarakat senilai Rp16,29 miliar. Ini membuktikan bahwa rehabilitasi mangrove mampu memulihkan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung.
Wamenhut menekankan tiga pilar utama untuk keberlanjutan ekosistem mangrove di masa depan yaitu komitmen kolaborasi dan inovasi dari seluruh pemangku kepentingan. Peringatan Hari Mangrove Sedunia yang mengusung tema Menjaga Mangrove Mengamankan Generasi Mendatang menjadi momentum penting untuk menanam mangrove dan meneguhkan tekad bersama demi masa depan yang lebih hijau dan sejahtera.








Tinggalkan komentar