politicanews.id – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim baru-baru ini menegaskan komitmen negaranya untuk terus mengukuhkan garis haluan diplomasi yang independen dan netral. Sikap ini diambil demi membela kepentingan nasional serta mempertahankan pendirian berprinsip Malaysia di tengah gejolak isu-isu global.
Dalam pidato kuncinya pada Pertemuan Meja Bundar Asia-Pasifik (APR) ke-3, Anwar menjelaskan bahwa Malaysia akan senantiasa memperkuat relasi dan mendukung inisiatif yang merefleksikan jati diri bangsa, pengalaman historis, serta kebutuhan untuk beradaptasi dengan dinamika global yang penuh ketidakpastian. "Kami memegang teguh prinsip, namun tidak memihak," tegas Anwar. Ia menambahkan, hal ini termasuk dukungan kuat terhadap resolusi konflik melalui jalur damai sesuai hukum internasional. Menurutnya, penggunaan kekuatan atau tekanan, baik militer maupun ekonomi, hanya akan memperparah permusuhan dan memicu dampak tak terduga.

Anwar juga kembali menggarisbawahi dukungan penuh Malaysia terhadap arsitektur dunia multipolar. Ia menekankan bahwa negara-negara berkembang berhak atas representasi yang lebih kuat dalam proses pengambilan keputusan global, sehingga perspektif dari Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Pasifik dapat lebih diperhitungkan.

Related Post
Menghadapi meningkatnya ketidakpastian serta erosi norma dan institusi global, Anwar menyatakan bahwa solusinya bukanlah dengan mengurangi multilateralisme, melainkan dengan memperkuat kolaborasi yang lebih efektif. "Tidak ada satu negara pun yang mampu menangani sendiri dampak perubahan iklim, pandemi, krisis pangan, atau ancaman siber secara efektif," ujarnya.
Pertemuan Meja Bundar Asia-Pasifik (APR) sendiri merupakan forum internasional bergengsi yang diselenggarakan oleh Institut Studi Strategis dan Internasional Malaysia atas nama Institut Studi Strategis dan Internasional ASEAN.








Tinggalkan komentar