politicanews.id – Warga Jakarta harus bersiap menghadapi kenyataan pahit. Mutu udara di ibu kota pada Kamis pagi mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan, bahkan menempatkannya sebagai kota dengan pencemaran atmosfer terburuk di seluruh dunia.
Berdasarkan pantauan IQAir pukul 05.50 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta melonjak hingga angka 174. Angka ini menandakan kondisi "tidak sehat" dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 73 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui ambang batas aman. Kondisi ini bukan sekadar angka. Udara yang tercemar parah ini berpotensi besar merugikan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif, serta dapat berdampak buruk pada tumbuhan dan nilai estetika lingkungan.

Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, rekomendasi tegas pun dikeluarkan: masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan masker menjadi keharusan. Selain itu, menutup jendela rumah sangat disarankan untuk mencegah masuknya udara kotor dari luar.

Related Post
Untuk memahami skala ancaman, perlu diketahui bahwa kategori "baik" berada di rentang PM2.5 0-50, yang berarti tidak ada efek kesehatan signifikan. Sementara itu, kategori "sedang" (51-100) tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan, namun dapat berdampak pada tumbuhan sensitif. Angka Jakarta yang mencapai 174 sudah mendekati kategori "sangat tidak sehat" (200-299) yang dapat menimbulkan dampak serius pada sejumlah populasi yang terpapar, bahkan "berbahaya" (300-500) yang mengancam kesehatan secara umum.
Ironisnya, Jakarta berdiri sendiri di puncak daftar kota dengan udara terburuk, jauh meninggalkan Chengdu Tiongkok di posisi kedua dengan AQI 156, Kinshasa Republik Demokratik Kongo di ketiga (154), Addis Ababa Ethiopia di keempat (149), dan Kampala Uganda di kelima (142).
Menyikapi kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta telah meluncurkan platform pemantau kualitas udara terintegrasi. Sistem ini didukung oleh 31 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang tersebar di berbagai penjuru kota metropolitan. Platform ini mengintegrasikan data dari DLH sendiri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Vital Strategies, demi menyajikan informasi yang akurat dan komprehensif kepada publik.










Tinggalkan komentar