politicanews.id – Sebuah terobosan besar dalam industri kakao Indonesia kini di depan mata. Pemerintah Indonesia dan Prancis mengukuhkan dedikasi mereka untuk menciptakan masa depan pertanian kakao yang lebih cerah, lestari, dan berdaya saing global melalui Proyek IndoKAKAO. Kolaborasi strategis ini bukan sekadar janji, melainkan langkah nyata menuju inovasi dan kemajuan sektor perkebunan yang krusial bagi perekonomian nasional.
Rapat Komite Pengarah Fase II Proyek IndoKAKAO yang baru saja digelar menjadi saksi bisu ambisi kedua negara. Diprakarsai oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Kedutaan Besar Prancis di Indonesia dan The Centre de Cooperation Internationale en Recherche Agronomique pour le Developpement (CIRAD), pertemuan ini mengevaluasi capaian gemilang fase pertama sekaligus merancang peta jalan ambisius untuk memperluas dampak positif proyek ini terhadap petani dan industri kakao di Tanah Air.

Deputi Bidang Pangan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A.A. Teguh Sambodo menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan kakao lestari mustahil dicapai sendirian. "Keterlibatan aktif berbagai pihak, mulai dari kementerian, lembaga riset, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, hingga organisasi petani, menjadi kunci utama agar inovasi yang lahir dapat diterapkan secara luas," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas sektor dalam mewujudkan visi besar IndoKAKAO.

Related Post
Proyek IndoKAKAO Fase II ini juga bertepatan dengan Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026, selaras dengan Strategi Bersama Prancis-Indonesia untuk Pendidikan, Penelitian, dan Mobilitas. Melalui kemitraan ini, kedua negara bertekad mengatasi berbagai kendala struktural yang membelenggu sektor kakao, seperti produktivitas rendah, usia tanaman yang menua, isu ketahanan pangan, hingga ancaman perubahan iklim.
Tujuan utama IndoKAKAO adalah mendorong terciptanya industri kakao yang lebih lestari, kompetitif, dan inklusif. Ini dicapai melalui penguatan riset, inovasi berkelanjutan, peningkatan kapasitas petani, perbaikan kualitas pascapanen, serta adopsi praktik budidaya ramah lingkungan. Harapannya, program ini mampu mendongkrak kemakmuran petani sekaligus memperkokoh posisi kakao Indonesia di pasar global.
Vincent Degoul, Vice Counsellor of Cooperation and Culture Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, mengungkapkan apresiasinya. "Proyek IndoKAKAO adalah bukti nyata komitmen bersama Prancis dan Indonesia dalam memperkuat riset, inovasi, dan pembangunan lestari. Kami bangga dengan kemajuan yang telah dicapai dan berharap kegiatan yang berjalan dapat semakin memperkaya pertukaran pengetahuan serta memberikan manfaat jangka panjang bagi pengembangan sektor kakao Indonesia," tuturnya.
Selama fase pertama, para pakar dari kedua negara telah menuntaskan 15 misi teknis dan menyelenggarakan beragam pelatihan intensif terkait kualitas kakao, fermentasi, dan agroforestri. Proyek ini juga sukses mendirikan dua fasilitas fermentasi percontohan modern di Pendolo Sulawesi Tengah dan Jember Jawa Timur, yang secara signifikan berkontribusi pada peningkatan praktik pascapanen dan mutu biji kakao.
Tak hanya itu, IndoKAKAO juga berhasil mengembangkan versi Bahasa Indonesia dari perangkat agroforestri Shade Tree Advice. Inisiatif ini turut mengidentifikasi praktik-praktik terbaik di tingkat lokal, termasuk model fermentasi kolektif yang diterapkan oleh Koperasi Kerta Semaya Samaniya di Bali, sebuah langkah cerdas untuk mendongkrak kualitas dan nilai jual kakao petani.
Komite Pengarah menilai bahwa Proyek IndoKAKAO telah bertransformasi secara impresif, dari tahap konseptual menjadi implementasi operasional yang kuat berkat kolaborasi kelembagaan dan eksekusi teknis yang efektif.
Untuk fase kedua, rekomendasi Komite Pengarah sangat jelas: memperluas keberhasilan lokal menjadi transformasi sektoral yang lebih sistematis dan menyeluruh.
Fokus program ke depan akan bergeser dari sekadar pelaporan hasil (outputs) menuju pelembagaan dampak nyata (outcomes). Ini berarti menerjemahkan bukti lapangan dan model percontohan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret, standar teknis nasional, serta materi penyuluhan yang terintegrasi dalam strategi revitalisasi kakao nasional Indonesia.
Selanjutnya, IndoKAKAO akan memprioritaskan konversi hasil riset menjadi solusi aplikatif yang dapat langsung dimanfaatkan oleh komunitas produsen kakao. Kegiatan utama meliputi peningkatan praktik fermentasi dan mutu kakao, perluasan pendekatan agroforestri, penguatan kapasitas lokal, serta dukungan penuh terhadap penyusunan peta jalan kakao lestari di Sulawesi Tengah.
Melalui pertanian lestari, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi ilmiah yang erat, proyek ini merefleksikan dedikasi bersama Indonesia dan Prancis untuk membangun masa depan sektor kakao yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Deputi Teguh kembali menekankan, "Nilai inti dari IndoKAKAO tidak hanya terletak pada aktivitas di lapangan, tetapi juga pada kemampuannya menghasilkan pembelajaran berharga yang dapat dimanfaatkan lebih luas. Berbagai pengalaman dan praktik terbaik yang lahir dari proyek ini harus menjadi rujukan kolektif untuk memperkuat pengambilan keputusan, mempercepat adopsi inovasi, dan mendukung pembangunan sektor kakao yang lebih tangguh dan lestari di masa mendatang."








Tinggalkan komentar