Politica News – Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, dengan nada optimis menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan, khususnya beras, dan siap menghadapi ancaman El Nino. Komoditas beras, menurutnya, menjadi tolok ukur utama ketahanan pangan nasional.
Amran menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi mengimpor beras medium, menandakan swasembada yang sempurna. "Ini dicapai hanya dalam waktu 1 tahun dari rencana Bapak Presiden 4 tahun," ujarnya di Jakarta, Jumat lalu. Ia mengapresiasi kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai berhasil mendorong swasembada pangan. Swasembada yang ideal, menurutnya, adalah ketika kebutuhan konsumsi masyarakat dapat dipenuhi sepenuhnya dari hasil petani dan peternak dalam negeri.

Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa beras menjadi fokus utama karena merupakan bagian terbesar dari konsumsi harian masyarakat Indonesia. "Presiden kita hebat. Capaian hari ini pangan aman, beras yang mendominasi. Itu karena lebih dari 50 persen persentase beras setiap hari kita makan. Tambah telur, daging ayam, jagung pakan, bawang merah, cabai juga sudah swasembada, minyak goreng kita suplai dunia," tambahnya.

Related Post
Data dari Bapanas menunjukkan bahwa skor Pola Pangan Harapan (PPH) Indonesia tahun 2025 menempatkan konsumsi padi-padian di atas 50 persen. Sisanya terdiri dari pangan hewani (12,7 persen), minyak dan lemak (12,4 persen), sayur dan buah (6,8 persen), gula (4 persen), serta kacang-kacangan, umbi-umbian, dan lainnya.
Dengan kondisi ini, Amran optimistis Indonesia mampu menghadapi dampak El Nino, terutama berkat perhatian besar Presiden Prabowo terhadap sektor pangan. "Krisis pangan dunia karena ada El Nino, kita bisa hadapi. Indonesia alhamdulillah, negara lain waswas. Itu berkat kebijakan Bapak Presiden. Ingat, kita sudah swasembada protein dan karbohidrat. Protein Indonesia sudah cukup, bisa ekspor. Kemudian karbohidrat juga swasembada," tegasnya.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai 4,8 juta ton hingga pertengahan April 2026. "Alhamdulillah, stok Bulog 4,8 juta ton. Maksimal 1 minggu lagi bisa mencapai 5 juta ton. Ini adalah capaian yang tertinggi dan tidak pernah terjadi," ungkap Amran.
Bapanas mencatat bahwa per 16 April, total stok beras yang dikelola Bulog mencapai 4,8 juta ton, terdiri dari CBP 4,78 juta ton dan komersial 19,9 ribu ton. Realisasi pengadaan setara beras dari produksi dalam negeri mencapai 2,04 juta ton. Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional terjaga di atas 120 sejak Juli 2024, dengan indeks tertinggi dalam 7 tahun terakhir tercapai pada Desember 2025 dan Februari 2026, yaitu 126,11.
Swasembada karbohidrat dan protein juga tercermin pada komoditas beras, telur ayam ras, daging ayam, dan jagung pakan. Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 menunjukkan bahwa Indonesia tidak akan mengimpor beras karena produksi dalam negeri (34,69 juta ton) mampu memenuhi kebutuhan konsumsi tahunan (31,16 juta ton). Hal serupa juga berlaku untuk daging ayam ras dan telur ayam ras, di mana produksi dalam negeri melampaui kebutuhan konsumsi nasional. Untuk jagung pakan, setelah sempat impor pada tahun 2024, dipastikan tidak ada impor lagi pada tahun 2025 karena produksi dalam negeri mencukupi.










Tinggalkan komentar