Kedelai Mahal, DKI Sarankan Warga Ubah Menu!

Kedelai Mahal, DKI Sarankan Warga Ubah Menu!

Politica News – Melonjaknya harga kedelai di pasaran membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengambil langkah antisipatif. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan pola konsumsi pangan mereka. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir dampak kenaikan harga kedelai yang semakin terasa.

Diversifikasi pangan menjadi kunci dalam menghadapi situasi ini. Hasudungan menyarankan agar masyarakat beralih ke komoditas pangan lain yang memiliki nilai gizi seimbang namun dengan harga yang lebih terjangkau. Langkah ini diharapkan dapat membantu masyarakat tetap memenuhi kebutuhan nutrisi tanpa terbebani oleh harga kedelai yang terus meroket.

 Kedelai Mahal, DKI Sarankan Warga Ubah Menu!
Gambar Istimewa : img.antaranews.com

Selain diversifikasi pangan, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah melalui program urban farming. Pertanian perkotaan ini dinilai sebagai solusi cerdas untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga secara mandiri. Dengan menanam sayuran dan buah-buahan sendiri, masyarakat dapat mengurangi ketergantungan pada pasar dan menghemat pengeluaran.

COLLABMEDIANET

Kenaikan harga kedelai saat ini memang cukup signifikan. Di tingkat pengrajin tahu dan tempe, harga kedelai berkisar antara Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp8.000 hingga Rp8.600 per kilogram. Sementara di pasar tradisional, harga kedelai bahkan mencapai Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, dari harga sebelumnya Rp13.000 hingga Rp18.000 per kilogram.

Kondisi ini juga dirasakan oleh para pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan. Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela, Joko Asori, mengungkapkan bahwa mereka terpaksa menaikkan harga produknya dari Rp65.000 menjadi Rp70.000 per kilogram. Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu oleh dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menjadi penyebab utama.

Joko menambahkan, lonjakan harga kedelai mulai dirasakan sejak Februari 2026 dan semakin parah pada April 2026. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada UMKM lokal agar dapat bertahan di tengah situasi sulit ini. Para pengrajin juga berupaya menyiasati kenaikan harga dengan mengurangi berat produk agar tetap terjangkau oleh konsumen. Informasi ini dilansir dari Politica News –

Jika keberatan atau harus diedit baik Artikel maupun foto Silahkan Laporkan! Terima Kasih

Tags:

Ikutikami :

Tinggalkan komentar