Politica News – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memberikan analisis terbarunya terkait dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia. Meskipun dampak langsung pada perdagangan dinilai masih terbatas, risiko tidak langsung berupa lonjakan harga energi dan volatilitas nilai tukar menjadi perhatian utama.
Rini Satriani, Head of Indonesia Eximbank Institute, menjelaskan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya menyumbang sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang diekspor meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta mobil dan kendaraan bermotor. Sementara itu, impor dari kawasan tersebut didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak.

"Risiko utama justru muncul melalui kanal tidak langsung, terutama kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat mempengaruhi dinamika ekspor Indonesia," ujar Rini di Jakarta, Rabu.

Related Post
LPEI terus memantau perkembangan konflik dan implikasinya terhadap stabilitas jalur energi internasional, termasuk Selat Hormuz yang merupakan arteri utama perdagangan energi dunia. Gangguan pada jalur ini dapat memicu kenaikan harga energi internasional dan biaya logistik global.
Meskipun impor minyak Indonesia tidak langsung dari Timur Tengah, dampaknya tetap terasa melalui jalur perdagangan regional, mengingat sebagian besar impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah.
Indonesia Eximbank Institute juga mencermati potensi dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti China, Jepang, India dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia, sehingga kenaikan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri dan permintaan terhadap produk Indonesia.
Jika ketegangan geopolitik berlanjut, harga minyak global diperkirakan dapat mencapai 85-120 dolar AS per barel pada tahun 2026. Kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global.
Namun, di tengah risiko tersebut, sejumlah komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga energi global.
"Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam," kata Rini.
Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4-5 persen, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5-6 persen pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda. Informasi ini dilansir dari politicanews.id.








Tinggalkan komentar