Politica News – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mencuat setelah serangan yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan ini memicu kekhawatiran global akan potensi Perang Dunia III, meskipun para analis menilai risiko tersebut masih rendah dalam jangka pendek.
Sebelum agresi yang terjadi di akhir Februari 2026 ini, sebenarnya ada harapan perdamaian melalui negosiasi antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Oman. Pembicaraan nuklir di Jenewa, Swiss, menunjukkan kemajuan signifikan, dengan kedua belah pihak berkomitmen mencari solusi diplomatik. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, bahkan menyebut putaran terakhir mencapai "kemajuan signifikan," membuka jalan bagi pembicaraan teknis lanjutan di Wina.

Namun, harapan itu pupus setelah serangan militer yang menargetkan lebih dari 2000 lokasi di seluruh Iran, seperti yang dilaporkan The Wall Street Journal. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ratusan warga sipil. Lembaga Bulan Sabit Merah mencatat setidaknya 555 orang tewas akibat serangan udara tersebut.

Related Post
Presiden AS saat itu, Donald Trump, bahkan menyatakan operasi militer bisa berlangsung hingga empat pekan. Pihak pendukung serangan berargumen bahwa negosiasi dengan Iran tidak akan efektif menghentikan ambisi nuklirnya, meskipun Iran berulang kali membantah tuduhan tersebut dan membuka diri untuk inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Situasi ini menempatkan dunia dalam ketidakpastian, dengan risiko eskalasi konflik yang lebih luas selalu membayangi. Dunia internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan demi mencegah konsekuensi yang lebih dahsyat.










Tinggalkan komentar