politicanews.id – Layanan kesehatan di pelosok Indonesia diprediksi bakal mengalami lompatan besar berkat sentuhan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Melalui kolaborasi strategis antara Indonesia dan Korea Selatan, teknologi canggih ini diusulkan untuk memperkuat fungsi puskesmas, terutama di wilayah terpencil yang selama ini sulit menjangkau fasilitas medis modern.
Akademisi Universitas Gadjah Mada, Dedy Permadi, mengungkapkan bahwa Korea Selatan sebenarnya sudah memiliki prototipe AI yang sukses diuji coba di wilayah pedesaan mereka. Peluang ini menjadi sangat menarik karena Indonesia bisa mengadopsi teknologi tersebut untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dasar, sementara Korea Selatan mendapatkan kesempatan untuk menguji efektivitas model teknologinya di medan geografis kepulauan Indonesia yang unik.

Kerja sama ini bukan sekadar soal penggunaan alat canggih. Dedy menekankan bahwa Indonesia harus memastikan adanya transfer pengetahuan yang masif. Tujuannya agar tenaga kesehatan, insinyur, hingga peneliti lokal tidak hanya menjadi penonton atau pengguna, tetapi juga mampu menguasai dan mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri.

Related Post
Kesepakatan besar antara kedua negara ini sebenarnya telah dipayungi oleh nota kesepahaman yang ditandatangani di Seoul. Fokus utamanya mencakup berbagai sektor krusial seperti kesehatan ibu dan anak, kesehatan mental berbasis masyarakat, hingga penguatan ketahanan kesehatan melalui sistem digital yang terintegrasi.
Namun, jalan menuju digitalisasi kesehatan ini bukan tanpa tantangan. Para ahli mengingatkan bahwa aspek pendanaan, tata kelola data, hingga hak kekayaan intelektual harus segera dibenahi. Presiden Korea Institute of Information Security and Cryptology, Howon Kim, menegaskan bahwa implementasi AI di rumah sakit atau puskesmas tidak boleh setengah-setengah.
Menurut Kim, penyediaan teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan ketersediaan data yang melimpah untuk melatih sistem AI, anggaran operasional yang stabil, serta prosedur yang sangat ketat untuk menangani risiko kesalahan penggunaan teknologi.
Sinergi ini dipandang sebagai hubungan yang saling menguntungkan atau win-win solution. Indonesia memiliki modal kuat berupa pasar yang sangat besar serta sumber daya manusia muda yang melek teknologi. Di sisi lain, Korea Selatan membawa keunggulan dalam pengembangan sistem AI, integrasi teknologi, hingga keamanan siber yang mumpuni.










Tinggalkan komentar