politicanews.id – Kabar gembira datang dari dunia industri tanah air yang tengah bersiap melakukan lompatan besar. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji secara ambisius menargetkan tingkat utilisasi industri melonjak hingga angka 85 persen. Langkah berani ini diambil untuk memperkuat posisi sektor manufaktur sebagai mesin utama penggerak ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
Saat ini tingkat penggunaan kapasitas industri berada di angka 66,13 persen namun tren menunjukkan arah yang sangat positif. Data terbaru mengungkap fakta mengejutkan di mana industri pengolahan nonmigas mampu tumbuh 5,32 persen pada triwulan II 2026. Angka pertumbuhan ini secara resmi telah melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29 persen.

Fenomena ini disebut sebagai momen langka karena dalam 12 tahun terakhir sektor industri biasanya selalu tertinggal di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Namun mulai akhir 2025 terjadi pergeseran besar di mana industri justru tumbuh lebih kencang. Hal ini membantah isu deindustrialisasi yang selama ini beredar dan justru membuktikan bahwa sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi yang sangat tangguh.

Related Post
Kekuatan industri dalam negeri juga terlihat dari dominasi investasi dan ekspor. Realisasi investasi di sektor pengolahan telah menyerap 38,98 persen dari total investasi nasional. Tak hanya itu kontribusi ekspor industri pengolahan pada Agustus 2026 mencapai angka fantastis yakni 159,55 miliar dolar AS atau setara dengan 82,40 persen dari seluruh total ekspor negara.
Optimisme ini semakin diperkuat dengan meningkatnya Indeks Kepercayaan Industri serta Purchasing Managers Index yang menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi yang sehat. Dengan dukungan pasar domestik yang sangat masif mencapai 287,2 juta penduduk serta konsumsi rumah tangga yang sangat tinggi industri nasional diyakini memiliki benteng pertahanan yang kuat meski badai ekonomi global melanda.










Tinggalkan komentar