Pro dan Kontra Vaksin Nusantara

JAKARTA—Politicanews: Sejumlah tokoh nasional berbondong-bondong menjadi relawan uji vaksin Covid-19 dengan Vaksin Nusantara yang dikembangkan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sebut saja konglomerat Aburizal Bakrie, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, Wakil Ketua Fraksi Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, mantan Mensekab Sudi Silalahi, Ketua Fraksi PAN Saleh Partaonan Daulay, Anggota Komisi VI Fraksi PDIP Adian Napitupulu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena dan lainnya.

Hanya saja proses uji coba berlangsung belum mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM belum meloloskan uji klinis vaksin ke tahap selanjutnya. Sehingga ada kontradiksi izin yang belum keluar dari BPOM dan kepercayaan sejumlah tokoh atas kreasi vaksin Terawan.

Vaksin Nusantara mulai dikembangkan Terawan sejak masih menjabat sebagai Menteri Kesehatan. Vaksin itu sendiri dibuat dari dengan dendritik yang berasal dari darah penerima yang diimbuhi antigen Covid-19.

Setelah reshuffle kabinet, Terawan meneruskan penelitian tersebut. Meski tak disambut hangat komunitas kesehatan dan akademisi di Indonesia, belakangan penelitian itu justru mendapatkan dukungan sejumlah tokoh nasional dan DPR.

Kabarnya uji klinis tahap II Vaksin Nusantara ini telah mendapatkan restu dari BPOM. Namun pada hari yang sama BPOM justru melansir hasil tinjauan atas uji klinis tersebut yang cenderung menyimpulkan sebaliknya.

BPOM menjinjau uji klinis fase I yang dilakukan di RSUP Dr Kariadi sejak 22 Desember 2020-18 Februari 2021 dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 28 orang. Dari tinjauan itu, BPOM menyimpulkan bahwa produk vaksin dendritik tidak dibuat dalam kondisi yang steril. Produk akhir dari vaksin dendritik juga tidak melalui pengujian kualitas sel dendritik.

BPOM juga menemukan sebanyak 20 dari 28 subyek (71,4%) mengalami kejadian yang tidak diinginkan (KTD). Diantaranya nyeri local, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, petechioe, lemas, mual, demam, batuk, pilek dan gatal.

Uji klinis Vaksin Nusantara juga menemukan terdapat tiga dari 28 subyek (10,71%) yang mengalami peningkatan titer antibody empat pekan setelah penyuntikan. Namun 8 dari 28 subyek (28,57%) justru mengalami penurunan titer antibody empat pekan setelah penyuntikan.

Bahkan BPOM mengungkapkan, proses pengembangan vaksin tersebut justru dilakukan perusahaan rintisan Amerika Serikat, AIVITA Biomedical Inc. Bentuk transfer teknologi masih dalam tahap memberikan kesempatan sejumlah staf dari Indonesia melihat proses yang dilakukan tim AIVITA.

Tampaknya tarik menarik, pro dan kontra, masih menyelimuti Vaksin Nusantara. Disatu sisi mendapat respon penuh dari tokoh-tokoh nasinonal, di sisi lain justru BPOM seperti menemukan sejumlah masalah yang mengarah pada tidak lolosnya uji vaksin buatan anak bangsa tersebut.

Diperlukan kebijakan semua pihak menyikapi pro dan kontra Vaksin Nusantara (de).

Tinggalkan Balasan